LHOKSUKON – Sebagian warga kelas menengah ke bawah yang kesehariannya berdagang di Pasar Lhoksukon, Aceh Utara, mengaku belum mengetahui bakal calon Gubernur Aceh dan Bupati Aceh Utara. Bagi mereka, siapa pun yang terpilih nantinya, dianggap tidak akan memengaruhi kehidupan keluarganya.
“Hana ta tusoe pileh. Enteuk ta-eu gamba jih wate pemilu, ta pileh toh yang mangat bak ate. Ureung shit hana taturi, kakeuh ta-eu gamba mantong (tidak tahu pilih siapa. Nanti kita lihat gambarnya saat pilkada, kita pilih yang berkenan di hati. Orangnya/calon memang tidak kita kenal, ya sudah kita lihat gambarnya saja),” kata Sumirah, 64 tahun, penjual pisang dan jagung di Pasar Lhoksukon saat ditemui portalsatu.com/, Sabtu, 5 Maret 2016, sore.
Sumirah mengatakan itu saat ditanyakan tentang bakal calon Gubernur Aceh dan Bupati Aceh Utara yang sudah menyatakan akan maju pada pilkada 2017 atau nama mereka mulai disebut-sebut di tengah masyarakat.
Sumirah mengaku berjualan di pasar itu sejak 28 tahun silam. Selama itu pula belum ada satu bantuan pun yang ia terima, meski pimpinan daerah terus berganti.
“Wate banjer mantong hana meutume bantuan sapue. Nan sabe dicatat, tapi bantuan hana meupat. Meunan shit wate konflik na tutong keude Lhoksukon, foto kopi KTP dilake, tapi bantuan hana pat cok. Jadi, adak beurangkasoe gubernur dan bupati saban shit (saat banjir saja tidak dapat bantuan apapun. Nama selalu dicatat, tapi bantuan entah di mana. Begitu juga masa konflik bersenjata ada dibakar kedai di Lhoksukon, foto kopi KTP diminta, tapi bantuan tidak ada. Jadi, siapa pun gubernur dan bupati sama saja),” ucap warga Gampong Dayah, kecamatan Lhoksukon itu.[] (idg)

