LHOKSEUMAWE – Calon Wakil Gubernur Aceh nomor urut 5, TA Khalid memberikan pemahaman politik kepada masyarakat yang menghadiri acara pelantikan Tim Pemenangan Partai Aceh (PA) Kecamatan Muara Dua, di Lapangan Expo Meunasah Blang, Kandang, Lhokseumawe, Minggu, 15 Januari 2017, malam. Cawagub pasangan Cagub Aceh Muzakir Manaf itu menyebut pentingnya kekompakan rakyat agar Aceh tidak diobok-obok pihak luar.

Diakui atau tidak, kata TA Khalid, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) adalah kekuatan real dalam ranah perpolitikan di Aceh. “Sehingga ada fenomena menarik bila dicermati pada pasangan Cagub-Wagub Aceh yang maju dalam Pilkada 2017,” katanya.

Enam pasangan calon (paslon) tersebut ada kaitannya dengan kekuatan GAM. “Kenapa demikian?” Pertanyaan tersebut diajukan TA Khalid di hadapan masyarakat Kemukiman Kandang untuk menjadi bahan kajian bersama.

TA Khalid menguraikan, dalam pasangan Tarmizi Karim-Machsalmina ada Sofyan Dawood yang berlatar belakang GAM. Cagub nomor urut 2, Zakaria Saman berlatar belakang GAM, Cawagub nomor urut 3, Sayed Mustafa Usab berlatar belakang GAM. Cagub nomor urut 4, Zaini Abdullah berlatar belakang GAM. Cagub nomor urut 5, Muzakir Manaf mantan Panglima GAM. Cagub nomor urut 6, Irwandi Yusuf juga berlatar belakang GAM.

“Apakah kebetulan, adakah saudara-saudara pernah melakukan kajian secara politik?” TA Khalid melontarkan pertanyaan tersebut kepada masyarakat. (Baca: “Perang” Pengaruh Mantan GAM di Aceh)

Menurut Khalid, capaian politik tidak ada yang kebetulan, tetapi semua harus direncanakan. Tanpa disadari oleh mereka (para paslon), kata dia, keadaan demikian diduga ada yang menciptakan agar bongkahan kekuatan politik Aceh menjadi pecah belah.

Itu sebabnya, musim Pilkada Aceh saat ini, juga pilkada sebelumnya selalu ada kejadian bentrokan di lapangan antarpendukung paslon tertentu. TA Khalid menduga kondisi Aceh sengaja di-setting agar “meupakee sabe keudroe-droe”.

“Ruang politiklah yang bisa digunakan untuk menghancurkan sebuah bangsa. Tidak akan hancur sebuah bangsa hanya karena rakyatnya lapar,” ujar TA Khalid.

TA Khalid menunjukan bukti, bangsa Ethiopia tidak hancur, meski seluruh rakyat negeri tersebut dilanda kelaparan. Bandingkan dengan Uni Soviet, sebuah negara makmur, adikuasa, tentara merahnya juga intelejennya KGB dikenal terkuat.

Namun, negara tersebut bisa hancur. Sebabnya adalah karena pecah belah politik di dalam negerinya. Saat pecah politik maka pecah belahlah bangsanya, maka hilanglah Uni Sovet dari peta dunia. Yugoslavia mengalami nasib yang sama, hancur karena pecah kekuatan politik dalam negeri. Berbeda dengan Yunani, meski negara tersebut bangkrut, tetapi politik dalam negeri itu tidak pecah belah. Sehingga, Yunani masih dapat bertahan. “Sebabnya? Ya, karena politiknya stabil,” kata TA Khalid.

Saat politik stabil, kata TA Khalid, maka pecah belah tidak akan terjadi. “Pertengkaran kita di setiap pilkada di Aceh itu karena diciptakan agar kita pecah belah. Bila hancur politik, maka pecah belahlah rakyat Aceh, lalu hilanglah marwah kita, selanjutnya hancurlah Aceh,” ujarnya.

TA Khalid menyebut kondisi Aceh saat ini diduga sedang dipecah belah dengan didorongnya kekuatan yang berasal dari kalangan GAM agar saling berhadapan. Dengan memanfaatkan  reaksi atas ketidakpuasan ambisi pribadi tokoh-tokoh pejuang yang mengorbankan kepentingan Aceh yang jauh lebih besar.

Itu sebabnya, TA Khalid mengajak semua rakyat Aceh jangan mau dipecah belah. “Pertahankan ideologi keacehan serta kekompakan kita seperti yang ditunjukkan masyarakat Kemukiman Kandang dalam masa perjuangan”.

“Dengan kompak, kita jadi bersatu, kuat, dan kita akan dihormati oleh pihak lain, sehingga kita tidak mudah diobok-obok oleh pihak luar,” ujar TA. Khalid.[] (rel)