Oleh : Andi Masta
MUSIM Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tentu semua pasangan calon menjanjikan kesejahteraan rakyat. Tidak ada yang lebih menarik selain menebar janji, menawarkan mimpi-mimpi. Namun, tanpa garansi untuk merealisasikan janji itu.
Saya ingin bercerita. Konon, tahun 1440, salah seorang cendekiawan terkemuka Aceh meramalkan akan tiba masanya seorang pemimpin lahir dari rakyat. Pemimpin itu tanpa embel-embel politik berlebihan, tanpa janji muluk-muluk, dan retorika apik. Tanpa gaya yang mencolok dengan ajudan di sana-sini setiap kali mengunjungi kampung-kampung.
Pemimpin itu bicara seadanya, tak perlu retorika dengan bahasa ilmiah yang sesungguhnya tak dimengerti rakyat. Pemimpin harus berbicara dengan gaya rakyat, yang mudah dipahami rakyat, dan mudah mempraktikkan janjinya. Bukankah pemimpin yang sederhana merupakan cikal bakal pemimpin mumpuni?
Tampaknya, melihat dari enam pasangan calon Pilkada Aceh, sosok jenis ini ada pada Apa Karya. Mantan Menteri Pertahanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini tak bicara sok ilmiah.
Terlepas bagian dari intrik dalam berpolitik, cara-cara Apa Karya mendapatkan penggemar dan fans tidak bisa ditebak siapa pun. Bahasa tubuh yang disuarakannya, tegas, lugas, dan tepat sasaran. Sesuai dengan apa yang diingkan warga Aceh yang haus pemimpin idaman.
Di sisi lain, gaya kocak bikin terbahak-bahak ala Apa Karya bukan tong kosong. Semuanya diulas sesuai fakta. Perut lapar contohnya. Apakah Aceh sudah sejahtera? Walau tidak disebutkan data akurat jumlahnya berapa, tapi kesenjangan sosial, kemiskinan di Serambi Mekkah ini membuat pemerintah terdahulu harus tahan malu. Aceh berada di peringkat kedua daerah termiskin di Sumatera pada 2016, 16,73 persen.
Apakah calon lain tidak melihat aspek kemiskinan untuk tren kampanye? Tentu ada, Tarmizi A. Karim, Zaini Abdullah, juga sering menyampaikan hal sama. Namun, kesan sungguh-sungguh lebih terasa di Apa Karya. Karena trik komunikasi publik yang disajikan bekas tokoh GAM itu lebih terasa di hati masyarakat.
Sekarang, tinggal menunggu. Akankah ramalan Syiah Kuala terbukti pada pilkada ini? Pemimpin yang menang adalah pemimpin dari rakyat, untuk rakyat.[]
*Penulis adalah seniman di Lhokseumawe

