Oleh Taufik sentana

Disebutkan dari Ibnu Abbas bahwa pada masa Rasul Muhammad SAW ada seorang pemilik kurma yang bakhil. Diantara pohon kurmanya tersebut ada sebatang yang tandannya lebat sekali  dan bahkan hingga terjulur ke halaman tetangganya yang fakir. Setiap kali ia memetik kurmanya dari halaman si tetangga yang fakir, ia selalu melarang anak si fakir ini untuk memakan kurmanya yang terjatuh di tanah, bahkan ia pernah mengeluarkan kembali kurma tersebut dari mulut si anak.

Lalu si tetangga yang fakir menyampaikan perkara tadi ke Nabi Muhammad SAW. Nabi pun berjanji akan menyelesaikannya. Ketika Nabi berjumpa dengan si pemilik pohon kurma, Nabi berkata “Maukah engkau memberikan sebatang kurmamu yang lebat buahnya itu kepada tetanggamu yang fakir itu?. Sebagai gantinya engkau akan mendapatkan gantinya di surga.” 
Si pemilik kurma tidak tertarik bahkan menimpal, ” Apakah hanya itu yang aku terima?”
Dan Nabi yang Mulia ini membiarkan ia berlalu menjauh.

Kejadian tadi terdengar oleh seorang kaya yang dermawan. “Apakah sekiranya kurma itu menjadi milikku, aku akan mendapatkan hal yang serupa (gantinya di surga)?”, tanya si dermawan kepada Nabi Muhammad SAW.
“Ya.” Jawabnya. Maka si dermawanpun menjumpai si pemilik kurma dan berniat ingin membelinya. Tapi harganya sangat mahal. “Aku ingin menjualnya dengan harga 40 batang kurma (harga pohon kurma yang baru berbuah saja sekitar 3 juta dengan rupiah)” demikian kata si pemilik pohon kurma. “Engkau mengada-ada. Tapi baiklah, aku akan tetap membelinya dengan harga yang engkau minta, tapi aku akan meminta dua orang saksi”

Setelah transaksi selesai ia pun datang ke Nabi Muhammad SAW dan Nabipun sangat gembira lalu menyampaikan kepada si tetangga yang fakir tadi bahwa pohon kurma lebat yang dahannya menjulur hingga ke halaman rumahnya telah menjadi miliknya atas kebaikan hati si dermawan.

Potongan kisah di atas tadi merupakan salah satu sebab, dari beberapa riwayat yang ada, tentang turunnya surah Al-Lail:Q.92:1-21. Isi surah ini, diantaranya, mengindikasikan watak bakhil dan mendustakan balasan akhirat, serta balasan utama bagi yang bersikap dermawan, bahkan memperoleh ridha dari Allah. Dari sini kita juga mengetahui bahwa sengaja menahan dari yang bisa kita berikan sebagai bentuk bakhil dan menjadi penyebab Allah tidak Ridha.

Disamping itu, melalui kisah tadi kitapun dapat mengetahui bahwa sifat bakhil dalam diri si pemilik kurma tadi masih tetap melekat di hatinya, walaupun ia telah menjual sebatang kurmanya dengan harga 40 batang, bahkan mungkin ia ingin menjualnya dengan harga yang lebih tinggi lagi.

Demikian pula sebaliknya dengan sifat si dermawan tadi, bahwa ia telah benar-benar menunjukkan sikap yang paling terpuji. Dan yang tak kalah penting adalah betapa ramah dan tidak marahnya Rasul Muhammad SAW tatkala tawaran pertamanya ditolak dengan ucapan “Apakah hanya dengan balasan surga yang bisa engkau berikan?”. Hingga Allah memberi jalan keluar lewat kedermawan si lelaki tadi.

*Diadaptasi dari terjemahan Asbabun Nuzul Alquran oleh K.H.Q.Shaleh dan H.A.A. Dahlan.