Seunujoh adalah berdoa pada hari ketujuh meninggalnya seseorang.
Itu ritual islami yang berlaku di Aceh, sejak Islam dibawa oleh kafilah dakwah utusan khalifah, dalam beberapa periode. Kafilah tersebut berpusat di Hadramaut, Yaman, melewati Baghdad, Persia, India, dan Aceh.
Mengapa Hadramaut? Hadramaut merupakan kota dan wilayah terbesar, termaju, dan tersubur di jazirah Arab pada zaman itu. Imam Syafi'i pernah ke kota itu.
Kemudian, orang orang Hadramaut diutus ke Asia Tenggara dengan pusat di negeri bawah angin (Sumatera), untuk memperluas jaringan Islam.
Mereka tidak berangkat dari pelabuhan Aden, tapi menuju Teluk Persia dan India karena itu lebih dekat dengan Sumatera dan punya kapal yang lebih besar. Itu berlangsung selama bertahun-tahun sehingga budaya Persia dan India turut serta, budaya yang telah disesuaikan dengan aqidah Islam.
Rombongan yang semakin banyak itu ke Sumatera melalui laut kepulauan Andaman dan Nikobar, singgah di pelabuhan Krueng Raya, Kerajaan Lamuri) dan Lhokseumawe (Krueng Geukueh-Blang Lancang), yang punya pelabuhan besar di Pantai Utara Sumatera.
Hal itulah yang kemudian menyebabkan di Aceh, fiqih menganut mazhab Syafi'i, yang di dalam keseharian dipengaruhi filosofi Persia dan ketasaufan India. Hal ini membantah pendapat kaum Arabia fanatik yang menganggap kenduri kematian dan berbagai hal lain di Aceh berisi pengaruh Hindu.
Kedangkalan ilmu cenderung menganggap pendapatnya benar dan menyalahkan pihak lain.
Di Aceh, kenduri kematian, dari hari pertama sampai tujuh, bahkan ada kenduri thon (tahunan) atau ruhoi pun ada. Itu telah menjadi budaya sejak ratusan tahun lalu, maka kalau ada kelompok baru yang datang dari Arab atau dari mana saja dan mengatakan itu salah, maka kita patut mempertanyakan, mengapa ia terlambat ratusan tahun dan mengapa ia menganggap dirinya lebih memahami Islam tertimbang Syiah Kuala, Syekh Hamzah Fansuri, Nuruddin Arraniri, Teungku Chik di Tanoh Abee, Abuya Muda Wali, dan lainnya? Berapa hadits ia hafal berapa kitab telah ia tulis secara suka rela, dan apakah orang itu meminta bayaran untuk ceramah dan ajarannya?
Kita harus menolak apapun pendapat dari kaum penghancur makam nabi itu, mereka dengan sengaja menghapus bukti sejarah Islam. Mereka menyebut orang lain syirik sementara mereka menganggap dirinya orang suci, sesuatu yang terlarang dalam aqidah Islam.
Kembali pada seunujoh, kecintaan manusia sesama manusia di Aceh bukan saja saat masih hidup, tetapi juga untuk orang yang telah mati. Karena orang Aceh percaya pada hari pembalasan.
Seunujoh biasanya berisi acara samadiah atau berdoa bersama di antara para karib kerabat dan masyarakat umum untuk seseorang yang meninggal dunia.
Sebelum berdoa, para tamu dihidangkan makanan berupa nasi dan lauknya. Setelah berdoa, dihidangkan kue aneka. Semua makanan itu berasal dari sedekah masyarakat umum, bukan harta anak yatim sebagaimana dituduh oleh para Arabian.
Tentang seunujoh, atau ritual islami terhadap orang sakit dan meninggal dunia lainnya, dilakukan pula di seluruh dunia Islam, termasuk Turki dan Afrika. Itu menandakan budaya seunujoh tidak ada hubungannya dengan Hindu, tetapi murni dari Islam.
Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan.


Pesan moralnyq