IDI RAYEK – Ketua KPA Sagoe/Kecamatan Indra Makmur, Kabupaten Aceh Timur Abdul Hamid N alias Pang Rahet, meminta masyarakat tidak terprovokasi dengan aksi terhadap PT. Medco. Hal itu disampaikan Pang Rahet menanggapi aksi unjuk rasa yang dilakukan masyarakat di Lapangan (CPP Blok A) PT. Medco E&P Malaka di Indra Makmur, Aceh Timur.

“Masyarakat harus terlebih dahulu teliti dalam mengikuti aksi-aksi unjuk rasa yang dilakukan kelompok tertentu atau demi kepentingan segelintir orang, apalagi aksi yang diikuti tidak pernah ada izin resmi dari pihak keamanan setempat, yang nantinya ditakutkan dampak kepada masyarakat itu sendiri. Dan masyarakat harus melihat pertimbangannya juga, dan melihat siapa di belakang aksi tersebut, apa kepentingannya sebelum mengikuti aksi demo,” kata Pang Rahet, kepada portalsatu com,  Jumat, 9 September 2016.

Pang Rahet menilai, selama terjadi aksi sering kali terlihat aktor yang hanya mengambil keuntungan pribadi saja. (Baca: Puluhan Warga Aceh Timur Demo PT Medco Tuntut Perekrutan Tenaga Kerja Lokal)

“Selama ini masyarakat hanya dipengaruhi oleh orang-orang yang hanya ingin mengambil kepentingan pribadi saja, untuk mendapatkan double job di perusahan. Buktinya di setiap aksi yang dilakukan hanya kepala-kepala aksi saja yang mendapatkan kerja, masyarakat sendiri tidak pernah mendapatkan hasil dari aksi- aksi yang telah diikutinya,” kata Pang Rahet yang juga anggota DPRK Aceh Timur Fraksi Partai Aceh itu.

Selaku penampung aspirasi masyarakat, mantan kombatan GAM itu berharap kepada semua unsur untuk mendukung perusahan migas agar secepatnya  beroperasi.

“Sehingga masyarakat di lingkungan itu cepat merasakan manfaat. Seperti yang disampaikan Bupati Aceh Timur H. Hasballah H. M. Thaib, selambat-lambatnya perusahan tersebut pada 2018 harus produksi,” katanya.

Di sisi lain Pang Rahet juga menegaskan kepada PT. Medco dan JEC agar lebih selektif dalam mempekerjakan buruh. Hal itu dinilai penting agar tidak terjadi konflik di masyarakat.

“Kami  meminta kepada PT. Medco untuk memprioritaskan penduduk lokal Aceh Timur, utamanya yang berdomisili di seputaran lokasi perusahaan agar tidak timbul konflik antara perusahan dengan masyarakat,” ucap Pang Rahet.[](ihn)