MEUREUDU – Nama pegiat pertanian, Yusri Yusuf alias Yusri Melon, kembali menjadi bahan perbincangan masyarakat terkait Pilkada Pidie Jaya (Pijay) 2018. Pasalnya, Yusri Melon yang kini menjabat Ketua Partai NasDem Pijay, memastikan maju sebagai bakal calon bupati (Cabup).

“Yusri Melon,” ujar Amir, seorang pemuda Kecamatan Bandar Baru, Pijay ketika portalsatu.com belum lama ini menanyakan siapa kira-kira tokoh yang akan menjadi rival kuat petahana pada Pilkada 2018. “Untuk sementara ini, kita dengar di tengah masyarakat, Yusri Melon,” kata Amir diamini warga lainnya.

Yusri Melon adalah putra Meureudu yang pernah bertarung pada Pilkada Pijay 2008. Saat itu, Yusri Melon berduet dengan Muhammad, kalah dari pasangan Gade Salam-Yusuf Ibrahim. Ketua LSM Keumang itu tidak maju sebagai Cabup pada Pilkada Pijay 2013 yang dimenangkan Aiyub Abbas-Said Mulyadi.

Yusri Melon mengaku telah mengevaluasi kekalahannya pada Pilkada 2008. Kekalahan itu diperkirakan lantaran ia tidak memilih pendamping/calon wakil bupati (Cawabup) dari Bandar Baru, kecamatan yang memiliki pemilih terbanyak di Pijay. Itu sebabnya, Yusri Melon akan berduet dengan tokoh dari Bandar Baru pada Pilkada 2018.

Menurut Yusri Melon, ada tiga putra Kecamatan Bandar Baru diusulkan masyarakat untuk dipilih salah satunya menjadi bakal Cawabup. Mereka adalah Saifullah, Muhammad Bintara dan Yusuf Ibrahim.

Lantas, apa latar belakang tiga sosok itu?

“Pak Saifullah, anggota TNI berpangkat kolonel. Beliau akan pensiun pada Oktober nanti. Pertimbangan diusulkan Pak Saifullah sebagai salah satu calon pendamping saya, karena beliau memiliki ilmu administrasi negara, sehingga dinilai mampu memenej pemerintahan agar lebih tertib administrasi dan meningkatkan kinerja PNS dalam pelayanan publik,” ujar Yusri Melon kepada portalsatu.com lewat telepon seluler, 21 Juli 2017, sekitar pukul 18.30 WIB.

Yusi Melon menjelaskan, Saifullah lahir di Trienggadeng, tetapi di usia dua tahun sampai dewasa tinggal di Paru, Kecamatan Bandar Baru. “Sehingga masyarakat Lueng Putu (Bandar Baru) juga menganggap beliau putra Lueng Putu, karena sampai saat ini beliau ada rumah di Paru,” katanya.

Yusuf Ibrahim, kata Yusri Melon, merupakan mantan Wabup pada periode Bupati Pijay Gade Salam, sehingga dipastikan berpengalaman memimpin pemerintahan. Sedangkan Muhammad Bintara, kata Yusri Melon, mantan anggota DPRK yang mengetahui tentang kinerja pemerintahan, sehingga dinilai juga punya kapasitas menjadi bakal Cawabup.

“Saya dan Pak Saifullah berkawan sejak enam bulan lalu. Sedangkan dengan Pak Yusuf dan Muhammad Bintara sudah akrab sejak lama. Intinya, saya ambil sikap, calon wakil dari Lueng Putu, karena saya putra Meureudu (Ibu Kota Pijay). Kita ingin bangun Pijay dengan keadilan dan kesejahteraan, sehingga dipilih wakil dari Lueng Putu,” ujar Yusri Melon.

Pembelajaran

Yusri Melon mengatakan, ia sudah mengambil sikap sejak September 2016 untuk maju kembali pada Pilkada 2018. “Apakah diusung parpol atau lewat jalur independen, itu persoalan lain. Yang jelas, saya maju sebagai kandidat. Sejak saat itu, saya ambil sikap, wakil dari Lueng Putu. Ternyata kemudian masyarakat Ulee Glee (Kecamatan Bandar Dua) dan kecamatan lainnya dukung saya pilih wakil dari Lueng Putu,” katanya.

Menurut Yusri Melon, saat ini ketiga putra Bandar Baru itu (Saifullah, Yusuf Ibrahim dan Muhammad Bintara) tengah disurvei oleh timnya di lapangan. “Kita punya jaringan Geunta (Geurakan Petani Seujahtera), organisasi profesi petani, bukan kelompok tani. Anggota Geunta ada di setiap gampong di Pijay, baik petani, ketua kelompok tani dan aparatur gampong yang selama ini kita bina. Mereka loyalis saya. Saya tidak meragukan mereka,” ujar insinyur pertanian lulusan Unsyiah ini yang mendapat penghargaan Pelopor Pembangunan Pertanian Nasional 1997.

“Jadi, sekarang kita kembalikan kepada masyarakat yang telah mengusulkan tiga putra Lueng Putu untuk menjadi calon wakil saya. Ketiganya sangat layak, tinggal sekarang menunggu hasil survei tim, karena mereka yang lebih tahu suara rakyat di lapangan. Karena saya ingin menang, bukan ingin kalah. Kekalahan saya tahun 2008 jadi pembelajaran, sehingga kita evaluasi. Alasannya (kalah di 2008) sangat kuat, menurut berbagai pihak, karena saat itu wakil saya bukan dari Lueng Putu,” kata Yusri Melon.

Yusri Melon menyebutkan, mulanya masyarakat mengajukan tujuh nama, kemudian mengerucut menjadi tiga. Dari tiga nama itu, ia akan mengambil keputusan untuk dipilih salah satunya dalam dua bulan ke depan setelah diperoleh hasil survei dari timnya. “Setelah dipilih salah satunya, dua lainnya tetap kita rangkul. Bahkan, semua elemen termasuk Cabup-Wabup yang kalah akan kita rangkul (jika dirinya menang pada Pilkada 2018),” ujarnya.[](idg)