BLANGKEJEREN – Toke (tauke) kopi di Kabupaten Gayo Lues bakalan kewalahan menghadapi musim panen pada September dan Oktober 2021. Hasil panen meningkat drastis dari tahun ke tahun, tapi jumlah tauke kopi tidak ada penambahan.

Aiptu Indra Gunawan, Direktur UD Gayo Lues Coffe, Kamis, 15 Juli 2021, mengatakan tauke kopi Gayo Lues memiliki modal terbatas di tengah pandemi Covid-19, sehingga diperkirakan tidak akan sanggup menampung semua hasil panen kopi tahun 2021 ini. Kalaupun tetap menampung, harus berutang terlebih dahulu kepada petani dan akan dibayar setelah kopi dijual keluar.

“Hari ini harga gabah kopi Gayo Lues Rp24 ribu per bambu, dan Rp53 ribu per Kg harga ijo kopi (biji kopi). Diperkirakan musim panen bulan September tahun ini mencapai 250 ton, dengaan luas lahan kopi yang panen mencapai 15 ribu hektare. Dan kopi merupakan salah satu komoditi yang bertahan menstabilkan ekonomi warga di tengah pandemi Covid-19,” katanya.

(Gabah kopi Gayo Lues saat dijemur di kilang kopi Raklintang. Foto: istimewa)

Jika 250 ton dikali harga Rp53 ribu, Indra mengaku jumlah uang untuk membeli hasil panen kopi Gayo Lues mencapai miliaran rupiah. Tauke kopi harus memutar otak untuk mendapatkan modal.

“Untuk menghadapi musim panen kopi Gayo ke depan, kami mengajak donatur berinvestasi dengan cara bagi hasil ataupun bisa menjadi toke secara langsung di Gayo Lues, sehingga hasil panen kopi bisa dibeli semuanya,” jelas Indra yang juga anggota Polri aktif di Polres Gayo Lues.

Untuk menjadi donatur, kata Indra, tidak terlalu ribet. Jika seseorang memiliki modal maka akan dibuat surat perjanjian pembagian hasil, baik per musim panen ataupun per tahun.

Akan tetapi, jika orang yang memiliki modal mau turun ke lapangan, Indra menyebut semakin banyak tauke akan semakin baik, karena harga beli akan bersaing. Petanipun akan lebih bersemangat dalam merawat, menanam, maupun memanen hasil kopinya.[]