Masuk angin disebut meuangèn dalam bahasa Aceh. Meuangèn terbentuk dari gabungan antara imbuhan meu- dan kata angèn. Berbeda dengan masuk angin dalam bahasa Indonesia yang merupakan dua kata, tidak ada imbuhan. Meski demikian, pembentukan dengan menggunakan imbuhan dalam bahasa Indonesia juga dapat dilakukan. Caranya dengan menggunakan imbuhan ber-, lalu dipadukan dengan angin. Maka, terbentuklah berangin.

Pemakaian meuangèn setidaknya dapat digunakan dalam beberapa konteks kalimat, seperti berikut ini (1) Pruet lôn bak sang meuangèn, (2) Bèk trép-trép that tunangan, ateuk meuangèn, (3) Lheuh lôn kheun meunan, jih han jideungoe lé haba lôn, bagah that meuangèn.

Dari tiga konteks kalimat di atas, bila dilihat maknanya, meuangèn, selain memiliki makna sebenarnya, ada pula yang bermakna kiasan.

Meuangèn pada kalimat pertama bermakna sebenarnya, yaitu  suatu “penyakit” karena berkumpulnya gas yang tidak merata di dalam tubuh. Contoh dalam kalimat lain, Han jeut tapeu-ék geulayang, hana meuangèn pih.

Lain lagi dengan kalimat kedua dan ketiga. Meuangèn pada kedua kalimat itu bermakna kiasan. Artinya maknanya tidak dapat ditelusuri dari meu- dan angèn. Meuangèn pada kalimat kedua bermakna munculnya tantangan-tantangan yang menyebabkan tidak jadinya menikah, atau batalnya pernikahan.

Meuangèn untuk konteks kalimat kedua ini acapkali menjadi bahan nasihat para orang tua pada anaknya setelah si anak bertunangan. Pertunangan berarti masa peralihan antara lamaran dan pernikahan. Biasanya masa pertunangan ditentukan waktunya oleh kedua belah pihak keluarga. Ada yang menentukan sebulan, tiga bulan, bahkan ada setahun menuju pernikahan.

Karena waktu pertunangan yang cukup lama itu, orang tua menganjurkan untuk tidak bertunangan lama-lama karena takut meuangèn. Artinya, dikhawatirkan pernikahan batal karena alasan tertentu, misalnya calon pengantin terpikat pada perempuan/lelaki lain, faktor bosan, dan alasan lain yang menyebabkan batalnya pernikahan.

Pada kalimat terakhir meuangèn bermakna ‘merajuk’, menunjukkan rasa tidak senang (dengan mendiamkan, tidak bersedia bergaul karena kecewa). Contoh lain, Bacut-bacut meuangèn lé. Selain meuangèn yang berarti ‘merajuk’, kata meurajuk juga digunakan dalam bahasa Aceh. Namun, kuantitas pemakaiannya tidak sebanyak meuangèn. Selain itu, merajuk bukan kosakata asli bahasa Aceh, melainkan pinjaman dari bahasa Indonesia.[]