BANDA ACEH – USAID Lestari Provinsi Aceh mengajak generasi muda Aceh untuk mengekspresikan kepeduliannya terhadap Kawasan Ekosistem Leuser melalui kampanye “Saman Pengawal Leuser: Mengawal Tradisi Melalui Konservasi”. Puncak acara ini adalah pagelara akbar tari Saman oleh 10.001 penari pada 13 Agustus 2017 di Gayo Lues. Sementara pra kegiatan diadakan di Taman Bustanussalatin (Taman Sari) Banda Aceh pada Sabtu, 5 Agustus 2017.

Staf Komunikasi dan Advokasi-USAID Lestari Provinsi Aceh, Cut Meurah Intan, saat dihubungi portalsatu.com melalui telepon selulernya mengatakan, untuk pagelaran Saman di Gayo Lues merupakan agenda pemerintah kabupaten setempat. Pihaknya hanya ikut memberi dukungan dalam bentuk publikasi.

“Mulai dari support pembuatan video tutorial, iklan di media, bikin kampanye di Banda Aceh dan memfasilitasi tim peliputan saman 10.001 nanti,”sebutnya, Jumat, 28 Juli 2017.

Pra Saman yang dibuat di Banda Aceh kata Cut Intan, sengaja dirancang untuk mempromosikan Saman dan Leuser yang akan ditampilkan besar-besaran di Gayo Lues nantinya.

“Untuk pra Saman di Banda Aceh nanti, hanya diikuti oleh 200 penari dari pelajar di Kota Banda Aceh, yang diadakan dari sore sampai malam,” jelasnya.

Pihaknya juga mengadakan lomba blog, foto, dan video yang bertema konservasi. Pada hari H nanti akan ditampilkan pameran foto, lomba melukis satwa, dialog interaktif, dan flashmob tari Saman. Ada juga minum kopi gratis, stand up comedy bertema konservasi dan penampilan musik, serta lelang lukisan.

“Lomba blog, foto dan video sendiri telah dibuka sejak Juni 2017 dan dapat dilihat informasinya di fanpage Facebook  Lestari Leuser,” katanya.

Rangkaian acara ini dibuat untuk menyediakan wadah bagi berbagai pihak untuk bertukar informasi dan inspirasi tentang upaya konservasi, sekaligus membangun kesadaran publik yang lebih baik tentang Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

“Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mempromosikan Gayo Lues, salah satu kabupaten di dalam KEL yang memiliki potensi ekowisata,” sebutnya.

USAID Lestari tambahnya lagi, telah mengadakan kegiatan serupa pada tahun 2016 lalu, melalui kampanye di media sosial Twitter dengan tagar #careleuser yang pada saat itu menduduki trending topic di Indonesia.

“Kampanye #careleuser merupakan strategi untuk menarik perhatian pengguna media sosial terhadap hutan Leuser yang pada tahun 2004 ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO),” katanya.

Menurutnya, kampanye ini adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran publik tentang Leuser sehingga dengan informasi yang tepat, anak muda dapat berperan aktif menjaga, melestarikan dan mengadvokasi tata kelola Hutan Leuser sebagai hutan tropis terbaik yang tersisa di dunia.

Proyek USAID Lestari mendukung upaya Pemerintah Republik Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), melestarikan keanekaragaman hayati di ekosistem hutan dan mangrove yang bernilai secara ekologis serta kaya akan simpanan karbon.

Lestari menerapkan pendekatan lanskap untuk menurunkan emisi GRK, dengan mengintegrasikan aksi konservasi hutan dan lahan gambut dan strategi pembangunan rendah emisi (LEDS) di lahan lain yang sudah terdegradasi.

“Upaya ini bisa dicapai melalui perbaikan tata guna lahan, tata kelola hutan lindung, perlindungan spesies kunci, praktik sektor swasta dan industri yang berkelanjutan, serta peningkatan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam kegiatan konservasi.”

Kegiatan Lestari kata dia dilaksanakan di enam lanskap strategis di tiga pulau terbesar Indonesia, yang memiliki sebagian tutupan hutan primer yang masih utuh dan memiliki simpanan karbon terbesar.

Di Sumatra bagian utara, lanskap Leuser mencakup Kabupaten Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Tenggara dan Aceh Barat Daya, termasuk Taman Nasional Leuser dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil.[]

Laporan Taufan Mustafa