Dalam kehidupan muslim peran dai bukan hanya dilakukan oleh mereka yang secara formal sebagai ust, kiyai atau ulama. Sebab menjadi dai merupakan bagian dari tugas amal ma'ruf dan nahi munkar, sehingga setiap muslim idealnya adalah seorang dai sesuai kapasitasnya masing-masing.
Setiap muslim hendaknya berperan sebagai fasilitator untuk mendekatkan kepada Allah dengan beragam sarana dan metoda. Baik itu sebagai ayah, ibu, guru, profesional, tukang bengkel dan bahkan pejabat atau pekerjaan apapun, semuanya mestilah menjadi sarana menuju dan mengajak orang lain ke jalan Islam. Ada pepatah Arab yang terkenal perihal ini : Fi ayyi ardhin tatha' wa anta mas-ulun an Islamiha. Dimanapun posisimu, kamu berkewajiban atas realisasi ajaran Islam di dalamnya.
Walaupun demikian, bagi sebagian intelektual muslim dengan latar belakang pendidikan Islam yang khusus dan memiliki kecakapan keilmuan dalam permasalahan ummat, mereka agaknya secara formal lebih dianggap sebagai dai.
Nah, ketika para dai ini mulai berkecimpung dalam urusan ummat dan perbaikan di tengah masyarakatnya, maka akan tampak nantinya dai mana yang paling diharapkan oleh ummat atau jamaah.
Untuk itu dalam siaran Akhyar TV, 2019, Ust Adi Hidayat menyebutkan tiga watak dai dalam relasinya terhadap tanggung jawab dakwah.
Pertama, Dai seperti air hujan. Ia dapat menyirami seluruh jamaahnya dengan keluasan ilmu, pendekatan, kesabaran dan keistiqamahannya. Dai model ini selalu tulus melayani ummat tanpa mempertimbangkan naik pesawat kelas apa dan seberapa tebal amplopnya.
Kedua, Dai seperti mata air. Dai model ini tidak pergi kemana-mana, namun orang orang mendatanginya untuk meminta ilmu atau sanad dan meminta penyelesaian perkara agama dan kehidupan.
Ketiga, Dai dengan karakter Air Pam. Ia hanya melayani dengan rekening tertentu, dengan tayangan tertentu atau bahkan ia tampil dengan banyak riasan. Sehingga ukuran keberhasilannya hanyalah dari perolehan materi semata. Bila rekening dan kran tersumbat, tersumbat pulalah kegiatannya dalam melayani ummat.
Semoga Allah senantiasa memelihara para dai kita dan membimbing mereka agar istiqamah dan ikhlas. Sebab, merekalah sisa lentera para Nabi.[]
Jurnal oleh Taufik Sentana
Bergiat di pendidikan Islam dan Dakwah. Menetap di Aceh Barat.

