BANDA ACEH – Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, meminta DPR RI untuk meninjau kompleks makam dan situs sejarah di Gampong Pande serta Gampong Jawa, Banda Aceh, yang saat ini sedang dibangun proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL. Dia juga menegaskan tidak mau berandai-andai terkait hal ini.

“Saya minta Komisi X DPR RI untuk meninjau lokasi tersebut,” kata Nova Iriansyah usai melantik pejabat Eselon II di ruang Serba Guna Setda Aceh, Banda Aceh, Selasa, 29 Agustus 2017.

Dia menyebutkan proyek IPAL bersumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ini merupakan wilayah kerja DPR RI.

“Itu wilayahnya DPR RI sebagai pengawas, dan Kementrian BUPR, kalau saya tidak salah karena itu menyangkut air bersih,” katanya.

Nova mengaku telah mendengar adanya kompleks makam dan situs sejarah di lokasi pembangunan IPAL dalam sebulan terakhir. Namun, dia mengaku belum mengetahui persis terkait hal tersebut.

“Sebenarnya itu ada undang-undangnya, kalau memang terbukti ada situs purbakala, itu ada undang-undang yang melindunginya,” kata Nova. 

Di sisi lain, Nova mengatakan, konsultan perencana proyek IPAL sudah melakukan survei awal di lokasi ini. Namun belum diketahui apakah yang ditemukan ditemukan di lokasi tersebut situs purbakala.

“Kan ada dokumen survei, kalau dokumennya itu menyebutkan situs, tapi tetap melanjutkan, itu akan melanggar,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat Gampong Pande, Banda Aceh, Zulkarnain, mengatakan pihaknya tidak menyetujui pembangunan pengolahan limbah dilakukan di situs purbakala. Dia menyebutkan pembangunan IPAL dilakukan di belakang gundukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gampong Jawa, yang justru banyak terdapat makam dan stuktur bangunan kuno.

“Sebenarnya situs purbakala tersebut sudah lama diketahui umum. Namun karena tidak ada yang peduli,” katanya kepada portalsatu.com, Senin, 28 Agustus 2017 kemarin.

Berdasarkan cerita orangtua di Gampong Pande, kata Zulkarnain, di lokasi pembangunan IPAL ini dulunya terdapat pondasi masjid serta pasar. Lokasi tersebut diduga merupakan kota kecil tempat para pedagang singgah dan bertukar barang dagangan. Selain itu, di lokasi ini juga terdapat banyak makam yang tersebar hampir di seluruh sudut Gampong Pande.

“Harapan saya, situs sejarah Aceh ini mohon diperhatikan, dirawat kembalilah supaya sejarah Aceh hidup kembali,” katanya.[]

Laporan: Taufan Mustafa