LONDON Wali Kota London Sadiq Khan, mengatakan, kebanyakan perdebatan anti-Uni Eropa lebih didasarkan kebencian. Kampanye berjalan rasis.
“Belum melihat bagaimana negara ini menyembuhkan dirinya. Inggris adalah rumah saya. Saya merasa teralienasi,” ujarnya, sebagaimana disiarkan Independent.
Sadiq mengatakan, tak sedikit mereka yang ingin agar Inggris keluar dari Uni Eropa adalah pembenci imigran. Hal ini membuat sejumlah Muslim, terutama yang berasal dari luar Inggris khawatir.
Media middleeasteye.net, mengabarkan, para muslim Inggris di London khawatir setelah hasil keputusan referendum yang memenangkan kelompok Brexit. Mereka tidak tahu nasibnya ke depan setelah Inggris keluar dari Uni Eropa.
“Sebelumnya saya berpikir Inggris keluar dari Uni Eropa hanya lelucon, namun setelah BBC dan media berita lain melaporkan saya mulai mengkhawatirkan keluarga saya,” ujar Brit Sajda Khatun, imigran yang tinggal di Whitechapel.
Khatun seperti keluarga Bangladesh lainnnya tinggal di Menara Hamlet. Mereka datang ke Inggris pada akhir tahun 1970-an setelah perang kemerdekaan negara itu pada 1971.
Menara Hamlet merupakan konsentrasi terbesar komunitas Muslim di Inggris dan Wales. Khatun tampak berjalan di sebuah tokoh grosir untuk membeli makanan buat berbuka puasa. Sama dengan Muslim lainnya di London, Khatun dan keluarganya ikut berpuasa selama Ramadhan. “Buat semua yang tinggal di Hamlet ini seperti akan menjadi buruk buat kita,” ujarnya.
Ia menceritakan bagaimana Muslimah kerap kali mendapat diskriminasi di jalan. Belum lagi jika pemerintahan baru nanti memangkas anggaran buat membantu para migran.
Kabar tersebut dikuatkan oleh pernyataan kandidat presiden AS yang dikenal anti Islam dan rasis, Donald Trump, yang memuji Inggris karena keluar dari Uni Eropa.
Inggris merupakan salah satu negara dengan tingkat Islamofobia cukup besar di Eropa. Mereka khawatir, kemenangan Brexit yang didukung kelompok antimigran akan semakin membuat Muslim terdiskriminasi.[]Sumber: REPUBLIKA

