BANDA ACEH – Lembaga Kebudayaan Antarbangsa, PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki), kembali mengadakan bincang budaya, di Sultan II Selim ACC, Banda Aceh, Kamis 21 April 2016, pukul 14:00 WIB sampai selesai.

Acara yang berkerja sama dengan managemen ACC Sultan II Selim dan ACSTF (Acehnese Civil Society Task Force) tersebut, kali ini bertema “Hubungan Aceh dan Patani: Persaudaraan Sepanjang Zaman”.

Pembicara yang dihadirkan, aktivis senior dari Aceh, Juanda Djamal, dan tiga orang aktivis dari Patani (wilayah Selatan Thailan), yakni Ilyas Cheha, Soopeeyah, dan Meisyan, serta Irzam Maulana dari Aceh.

“Aceh dan Patani punya masalah yang sama, yakni konflik vertikal dengan pemerintah. Aceh yang sudah damai akan baik berbagi pengalaman dengan Patani, atau sebaliknya berempati dan membantu mereka sebisanya,” kata Juanda, di Banda Aceh, Selasa, 19 April 2016.

Sementara dari PuKAT, Thayeb Loh Angen, mengatakan, Aceh dan Patani memiliki sejarah yang akrab sama dengan Melaka dan negeri Melayu Islam lainnya di Asia Tenggara.

“Sebagai induk dari Kesultanan terbesar di kawasan ini pada masanya, Aceh adalah rujukan ekonomi, peradaban, dan politik. Sampai kini kitab-kitab masa silam warisan ulama dari Aceh ada di Patani, disimpan dengan baik, dipelajari. Dan di masa kini hubungannya itu sebatas karena senasib semata,” katanya.

Acara tersebut, terbuka untuk umum dan gratis. Selain acara Aceh dan Patani, dalam April ini juga, PuKAT dan managemen AC Sultan II Selim, menjadwalkan bincang budaya bertajuk “Ramly Ganie: Aceh Selama Hidup Saya”, sebuah acara selayang pandang tentang sosial budaya yang berkembang di Aceh.[]