BANDA ACEH – Ketua Majelis Pengurus Wilayah Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (MPW ICMI) Aceh, Dr. Taqwaddin, mengusulkan 30 nama baru untuk memperkuat kepengurusan periode 2021-2026.

Usulan tersebut diterima Majelis Pengurus Pusat (MPP) ICMI dan telah dituangkan dalam Surat Keputusan Nomor 009/SKO-P/ICMI/05/2024 tentang Penyempurnaan Kepengurusan MPW ICMI Aceh periode 2021-2026. SK tertanggal 8 Mei 2024 tersebut ditandangani Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal MPP ICMI, Prof. Arif Satria dan Dr. Andi Yuliani Paris, M.Sc.

“Iya, benar, kami baru saja menerima SK baru tentang Penyempurnaan Pengurus ICMI Aceh,” kata Taqwaddin dalam rilisnya, Selasa, 14 Mei 2024.

Taqwaddin menjelaskan untuk mempercepat gerak dan memperkuat eksistensi organisasi cendekiawan ini, pada 26 April lalu, pihaknya membuat rapat dengan mengundang semua pengurus harian ditambah dengan Ketua dan Sekretaris Penasihat serta Ketua dan Sekretaris Dewan Pakar ICMI Aceh.

Dalam pertemuan tersebut, Taqwaddin menjelaskan tolok ukur cendekiawan itu bukan hanya mereka yang memiliki ijazah doktor dan profesor (guru besar). “Tapi, siapa saja yang memiliki kapasitas dan kualitas kepribadian, terlebih lagi kepedulian terhadap sesama”.

“Menurut saya, setiap orang yang memiliki kapasitas intelektualitas yang diakui publik dan peduli pada masyarakatnya, itu sudah memenuhi prinsip kecendekiawanan. Jadi, bagi saya, tolok ukur cendekia bukan pada kertas ijazah, tetapi lebih pada kapasitas intelektualitas,” ujar Taqwaddin yang dipercaya sebagai Ketua MPW ICMI Aceh sejak 1 April 2024.

Buya Hamka misalnya, tidak memiliki kertas ijazah kesarjanaan, tetapi diakui sebagai ulama dan cendekiawan. Begitu juga Soedjatmoko, Rektor Universitas Bangsa-Bangsa di Tokyo Jepang, dulu juga bukan sarjana. Namun, keduanya kemudian mendapat anugerah profesor doktor dari perguruan tinggi ternama dunia karena karya-karya mereka.

“Di Aceh, Pak Nab Bahany dan Pak Yarmen misalnya, kualitas akademik dan keahlian mereka diakui publik di Aceh. Pak Nab, budayawan ini memiliki kontribusi pemikiran begitu banyak melalui berbagai tulisan beliau yang memukau dan mencerahkan. Begitu juga Pak Yarmen yang memiliki keahlian Ilmu Bahasa Indonesia yang sangat mumpuni. Kedua mereka saya usulkan menjadi Pengurus ICMI Aceh,” ungkap Taqwaddin.

Menurut Taqwaddin, ICMI Aceh sekarang bukan hanya kumpulan akademisi dan birokrasi. “Tetapi, juga banyak kami usulkan dari kalangan profesional (dokter, wartawan, konsultan, dan hakim ad hoc). Ada juga dari kalangan politisi DPR RI dan DPRA seperti Nasir Djamil, Muslim Ayub, Irawan Abdullah, dan beberapa orang lagi lainnya”.

“Bahkan dari kalangan pengusaha juga kami ajak bergabung untuk memperkuat ICMI Aceh. Di antaranya, Ismail Rasyid (Owner Trans Continent), Sayid Salim (Owner Group Hotel Grand Arabia, Hotel Renggali, dll), Azhar Idris (Owner Djarwal Group), Zaki (Pemilik Usaha Bus Harapan Indah), Jafaruddin Husin (kontraktor yang juga Owner Kuala Village Resort),” tutur Taqwaddin.

Nama-nama disebutkan Taqwaddin itu ada dalam Keputusan MPP ICMI Nomor 009/SKO-P/ICMI/05/2024 tentang Penyempurnaan Kepengurusan MPW ICMI Aceh periode 2021-2026.

“Bagi saya, tak masalah banyaknya orang yang terlibat menjadi pengurus dalam suatu organisasi kemasyarakatan. Bahkan lebih bagus. Ini tentu memudahkan organisasi untuk menggalang kontribusi, baik kontribusi pemikiran maupun kontribusi finansial untuk menindaklanjuti program-program kegiatan yang disepakati,” ujar Taqwaddin.[](ril)