LHOKSEUMAWE – Masyarakat Aceh belum “merdeka” meski usia kemerdekaan Republik Indonesia telah mencapai 71 tahun. Pendidikan dinilai belum merata untuk kalangan bawah atau masyarakat miskin. Masih banyak yang terbelenggu kemiskinan dan belum “merdeka” dari segi finansial.

Hal itu disampaikan Duta Wisata Lhokseumawe 2010, Muhammad Reyhand Pahlevi atau Reand, 22 tahun, kepada portalsatu.com, Rabu, 17 Agustus 2016. Menurutnya, pemerintah masih perlu memerhatikan sektor pendidikan yang belum merata. Saat ini banyak anak di kawasan pedalaman belum dapat menikmati bangku sekolah dengan layak, karena infrastruktur kurang memadai.

“Masyarakat Aceh juga banyak yang terbelenggu kemiskinan dan belum mendapatkan kesejahteraan dari segi finansial. Untuk mengatasi itu diperlukan campur tangan pemerintah, sehingga kesejahteraan masyarakat tercapai,” ujar Reand.

Reand melanjutkan, masyarakat Aceh juga membutuhkan lapangan kerja agar jumlah pengangguran tidak terus meningkat. Kurangnya lapangan pekerjaan bagi masyarakat sangat disayangkan, mengingat Aceh memiliki kekayaan alam yang melimpah.

“Selama ini masyarakat Aceh harus bersaing dengan pendatang agar dapat bekerja di perusahaan besar. Dalam hal itu sering kali pendatang lebih unggul. Itu terjadi karena kurangnya keahlian dan Sumber Daya Manusia (SDM),” ujar Reand.

Bagi Reand, kemerdekaan itu juga dapat digambarkan saat masyarakat bebas memberikan pendapat tanpa adanya paksaan atau tekanan. Bebas berekspresi dan berkarya bagi kaula muda, tentunya dalam hal positif.

“Semoga dengan momentum Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 ini, masyarakat Aceh dapat merasakan arti kemerdekaan yang sebenarnya,” pungkas Reand.[]