SAMALANGA – Tokoh spritual muda kelahiran Laweung, Pidie, Teungku Iswadi Arsyad mengatakan, orang-orang yang cerdas tidak akan terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia. Sebab dunia ini fana dan hanya sementara.

“Sebaliknya mereka akan senantiasa ingat akhirat, tempat tinggalnya yang abadi kelak. Dengan demikian seorang yang cerdas maka mereka akan selalu ingat kematian,” papar Teungku Iswadi Arsyad akrab disapa Abah Iswadi ditemui, Minggu, 30 Oktober 2016.

Abah Iswadi menjelaskan, mereka yang paling banyak mengingat kematian dan bagus persiapannya untuk kehidupan berikutnya (setelah kematian). “Mereka itulah orang-orang yang cerdas,” ujar Abah mengutip sebuah hadis Rasulullah SAW dengan nada mengingatkannya.

Banyak didapati dalam masyarakat, orang berkapasitas dan diakui sebagai “orang cerdas”. Namun, kata Abah Iswadi, terkadang mereka bukanlah kalangan “orang cerdas”, melainkan “orang tidak cerdas”. Kecerdasan itu, kata dia, bukan hanya berlandaskan kepada IQ semata.

“Esensi orang yang ‘tidak cerdas’ sebenarnya, mereka yang tahu bahwa dirinya akan meninggalkan dunia ini, tetapi kita tetap memfokus untuk mengejar dunia ini mati-matian. Kita tahu bahwa akan menghadapi kehidupan akhirat, tetapi lalai mempersiapkan bekal untuk itu,” kata sang muallim majelis ta'lim lintas kabupaten ini.

Menurut Abah, hal ini disebabkan karena sebagian orang lalai mengingat akan datangnya kematian. Ia menyebut hal ini seperti telah diperingatkan salah seorang Salafatus Saleh mengenai seputar Kematian, “Kematian telah menghinakan dunia. Tidaklah tersisa orang yang berdiam padanya rasa gembira. Tidaklah seorang hamba hatinya senantiasa mengingat kematian kecuali ia akan mengecilkan dunia dan menganggap remeh segala apa yang ada padanya”.

Guru senior Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga ini juga mengutip perkataan Hasan Al-Bashri Rahimallahu anhu: “Hendaknya kita sesekali masuk kuburan untuk mengingat kematian. Ini sebagai ‘praktek’ untuk mengingat mengingat kematian. Bila perlu kita masing-masing menyiapkan ‘kuburan’, dan sesekali masuk dan beribadah di sana. Ini tidak lain agar hati kita tidak akan terikat dengan dunia”.

Kandidat master IAIN Lhokseumawe ini menambahkan, hendaknya setiap orang senantiasa bersiap untuk menghadapi kematian. “Ingatlah kita di dunia ini hanya sementara, dan kita harus menyiapkan bekal untuk hari esok kelak,” pungkas Abah Iswadi.[]