BANDA ACEH – Solidaritas Perempuan AntiKorupsi Aceh (SPAK-Aceh) mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan tegas terhadap rumah sakit yang memberikan pelayanan buruk. Salah satunya adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh yang mengabaikan pasien sehingga berujung kematian.

Koordinator SPAK-Aceh, Yulinda Wati, meminta pemerintah untuk segera melakukan investigasi dan penegakkan hukum bagi pelaku. Dia juga meminta pemerintah untuk mengevaluasi kinerja dan struktural di rumah sakit berplat merah tersebut.

“Kami mencium aroma KKN di RS yang dibiayai oleh pemerintah ini,” ujar Yulinda Wati dalam siaran pernya kepada portalsatu.com, Rabu, 30 Maret 2016.

Dia turut meminta masyarakat agar berani membuat laporan terhadap rumah sakit yang memberikan pelayanan buruk. Selain itu, Yulinda Wati juga mengajak keluarga korban untuk membuat laporan ke pihak berwajib agar dapat dilakukan tindakan hukum. 

“Sehingga dapat memberikan efek jera para pelaku. Kami siap mendampingi dan mengadvokasi para korban, dan untuk pihak kepolisian agar dapat merespon kejadian ini walau tanpa pengaduan dari korban,” katanya.

Seperti diketahui, Suryani bersama bayinya meninggal dunia setelah menjalani operasi cesar di RSUZA Banda Aceh, Selasa, 29 Maret 2016. Sebelumnya, warga Gampong Lambatee Kecamatan Darul Imarah ini sempat dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh. Namun selama di RSIA, Suryani tidak kunjung mendapat penanganan medis meskipun sudah waktunya melakukan persalinan.

Muslem, suami korban, mengaku telah beberapa kali menjumpai petugas piket untuk mengadukan kondisi istrinya. Namun keluhannya sama sekali tidak digubris hingga akhirnya Suryani dirujuk ke RSUZA Banda Aceh. Di RSUZA, korban langsung ditangani secara medis dan diketahui kandungan rahimnya rusak akibat terlambatnya penanganan yang dilakukan. 

Korban diduga meninggal akibat ditelantarkan pihak rumah sakit, setelah 11 jam tidak mendapatkan penanganan medis di rumah sakit milik pemerintah itu.

Korban yang kritis meninggal dunia bersama bayinya usai menjalani operasi cesar di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh. Pihak keluarga mengaku kecewa terhadap pelayanan RSIA yang tidak menangani pasien karena alasan tidak ada dokter.[](bna)