Kita wajib mempelajari cara nenek moyang (indatu) kita yang beradab itu hidup, akan tetapi lebih penting lagi mempelajari bagaimana mereka mati.

Aceh adalah bangsa pahlawan, memiliki ilmuwan besar seperti Sultan Alauddin Al Kahar, punya filsuf ulung seperti Syekh Hamzah Fansuri. Kita punya itu di masa kakek nenek kita, dan di masa kini kita seperti buih yang ada karena angin dan hilang bersamanya.

Kita adalah bangsa guru, bangsa pemimpin, kita adalah bangsa pelindung. Oleh karena itulah sampai kini, walaupun kita tengah merana, orang-orang tertindas seperti bangsa Rohingya itu tetap meminta perlindungan dari Aceh.

Kita adalah bangsa pahwawan, angkatan Laut Aceh ditakuti dunia.

Bandar Darussalam, 18 April 2017
Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan