Karya: Taufik Sentana*

Aceh datang kepadaku seperti pagi,
sepagi aku mengenalnya sejak dalam
masa belajar dulu.

Tentu tidak kukenal secara utuh,
hanya lewat cerita  Ayah di
tengah keluarga dan interaksi
dengan sahabat saat sekolah
pesantren Medan.

Kudengar, ada kisah putri hijau yang terkait dengan kerajaan Aceh. Dan kulihat, beberapa sahabat yang datang
dari Aceh itu dengan latar ekonomi
yang kuat. Bila mereka pulang saat liburan, maka mobil rombongan yang ditumpangi sekelas Marsedes, bukan seperti Damri dan Setia-Budi.

Tapi yang kulihat itu tidaklah mewakili
seluruh pengertian tentang Aceh. Artinya Aceh ” hanya” tergambar dalam kemakmuran dan “sedikitnya” berita tentang separatis, pun berita itu tidak dikonsumsi secara umum. Belakangan itu dikaitkan dengan “rasa ingin merdeka”, dan Ayahku juga punya kisah tentang itu karena ia bekerja di pinggiran laut Aceh di departemen perhubungan, dari Sabang hingga ke timur Aceh.

Sampai datang satu masa, 
saat Aceh datang tak pagi lagi di mataku. 

Saat kutahu Aceh dalam status darurat dan aku memilih mengabdi (mengajar) di pesantren Lhokseumawe sekitar tahun 97. Itu adalah awal mataku langsung melihat Aceh (hingga kini) yang dikenal makmur, istimewa dan sejarah yang kental (dalam perlawanan dan peradaban).[]

*Peminat sejarah dan budaya.