Pada 11 Maret 1947 para pemuda dari etnis India di Aceh membentuk  organisasi Persatuan Kebangsaan India Merdeka (India Independence National Society) di Banda Aceh. Melalui organisasi ini pemuda etnis India di Aceh menyatakan dukungannya terhadap perjuangan rakyat Aceh.

Organisasi ini diketuai oleh Jagir Singh, sebagai wakil ketua terpilih Gulam Muhammad dan Walliama Pilley, kemudian AS Syed Mahmud Naina dan Muhammad Amin sebagai setia usaha, serta Abdul Majeed sebagai bendahara. Mereka dibantu oleh para pemuda India lainnya dalam kepengurusan seperti: Abdul Kader Serang,  Alwel Singh, Abdul Muhammad, Bhagat Singh, dan Suntiram Pilley.

Jagir Singh pada 9 Januari 1947 atas nama organisasi Pemuda India Sumatera Utara yang berkedudukan di Banda Aceh, mengirim foto Presiden Republik Indonesia, Ir Soekarno kepada Perdana Menteri India, Pandit Jawaharlal Nehru di New Delhi, India.

Foto yang diberi bingkai warna emas itu dikirim oleh Jagir Singh melalui wakil-wakil Aceh yang menghadiri sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) untuk diserahkan kepada perwakilan India di Yogjakarta, untuk kemudian dikirim kepada Perdana Menteri India, Pandit Jawaharlal Nehru di New Delhi, India.

Maksud pengiriman foto Presiden Soekarno oleh pemuda India di Banda Aceh itu adalah sebagai bentuk pernyataan dukungan kemerdekaan Republik Indonesia, serta sebagai lambang hubungan persaudaraan antara pemuda etnis India di Aceh dan Indonesia secara umum dengan para pemuda Indonesia.

Tiga wakil Aceh berangkat pada 9 Januari 1947 untuk mengikuti sidang KNIP dan membawa foto Presiden Soekarno titipan pemuda India tersebut adalah: MR SM Amin, Amelz dan Sutikno Padosumarto. Mereka tiba di Yogjakarta pada 27 Januari 1947.

Khusus Amelz, ia menggantikan Ali Hasjmy yang menolak menjadi anggota KNIP karena kesibukannya dalam beberapa jabatan yang diemban di Residen Aceh. Pada pemilihan yang berlangsung tiga hari sebelumnya, yakni 6 Januari 1947, Ali Hasjmy meski terpilih, kemudian menyatakan ketidaksediaannya karena mengembang banyak tugas-tugas berat di Aceh, diantaranya sebagai Pimpinan Umum Kesatria Pesindo Divisi Rencong, Staf Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo, serta beberapa tugas-tugas perjuangan lainnya.

Sejarawan dan pelaku perjuangan kemerdekaan di Aceh, Teuku Alibasjah Talsya dalam buku Modal Perjuangan Kemerdekaan menjelaskan, sebelumnya pada 8 Februari 1947 di Banda Aceh juga dibentuk perkumpulan perempuan Indonesia, Tionghoa dan India dengan nama Gabungan Partai-Partai Pemudi Indonesia, Tionghoa dan India.

Pada 24 Mei 1946 juga dibentuk Lembaga Gabungan Indonesia Tionghoa dan Arab (LEGITIA) di Banda Aceh. Organisasi-organisasi kepemudaan etnis minoritas ini secara tegas menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Republik Indonesia, seperti ditegaskan oleh Liong Yaw Hiong selaku pemimpin etnis Tionghoa seluruh Aceh pada pada 26 Desember 1946 dalam dalam rapat akbar bangsa-bangsa asing di Banda Aceh.

Pada 12 November 1945 hal yang sama juga dilakukan pemuda ernis Tionghoa lainnya di Aceh. mereka membentuk perkumpulan The Oversea Chinese Young Man Associations (OCYMA). Organisasi ini diketuai oleh Leo Foek Soen. Dalam perjalanannya, dua bulan kemudian yakni pada 3 Februari 1946 juga dibentuk perkumpulan Hua Chiau Chung Hui (Gabungan Perkumpulan Tionghoa Perantauan) di Banda Aceh. Perkumpulan ini diketuai oleh Liong Jaw Hiong. [**]