Pada 8 Februari 1947 para perempuan Aceh membentuk Gabungan Partai Partai Pemudi Aceh, Tionghoa dan India. Sebagai ketua organisasi ini ditunjuk Nurliah yang mewakili perempuan Aceh dan Tjun Ngo dari kalangan perempuan Tionghoa.

Organisasi perempuan multi etnis di Aceh ini dibentuk untuk menyokong perjuangan kemerdekaan dari garis belakang. Kagiatan utama organisasi perempuan ini berkaitan dengan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) di daerah perang, mereka membantu dan menangani perawatan dan pemulihan korban perang.

Baca Juga: Cara Masyarakat Aceh Mneyebut Pembagian Waktu

Para perempuan yang tergabung dalam organisasi ini juga disiapkan sebagai “tenaga terluang”. Kader-kader organisasi disiapkan sebagai tenaga pembantu yang siap digerakkan kapan saja untuk kebutuhan di garis belakang perang, baik untuk urusan dapur umum, logistik dan lain sebagainya.

Meski bergerak di garis belakang peperangan, organisasi perempuan ini juga membentuk “badan keprajuritan” yang menyediakan para perempuan muda untuk dilatih secara militer. Mereka disiapkan untuk terlibat langsung di garis depan peperangan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Lebih jelas tentang hal tersebut bisa dibaca dalam buku Modal Perjuangan Kemerdekaan: Perjuangan Kemerdekaan di Aceh 1947-1948.  Buku ini diterbitkan pada tahun 1990 oleh Lembaga Sejarah Aceh (LSA). Buku yang ditulis oleh Kepala Seksi Publikasi Kementerian Penerangan Republik Indonesia, Teuku Alibasjah Talsya ini merekam secara kronologis berbagai peristiwa di Aceh selama zaman perjuangan kemerdekaan.[]

Baca Juga: Sejarah Dihapusnya Nama Kota Banda Aceh