BUDAYA Samadiyah di Subulussalam merupakan salah satu tradisi keagamaan dan spiritualitas lokal yang tumbuh dalam di seluruh masyarakat Aceh. Begitu juga khususnya di kota subulussalam maupun pedalaman Subulussalam. Tradisi ini memiliki akar yang kuat dalam ajaran tasawuf dan praktik tarekat, serta menjadi bagian penting dari identitas budaya dan religius masyarakat setempat.

 

Dalam konteks lokal, Samadiyah sering diartikan sebagai praktik zikir berjamaah yang dilakukan secara rutin dengan tata cara tertentu, biasanya dipimpin oleh seorang tengku atau ahli (syech) tarekat. Tradisi ini diyakini merupakan warisan dari tarekat-tarekat sufi, seperti Tarekat Naqsyabandiyah atau Syattariyah, yang telah lama berkembang di Aceh. Dalam Samadiyah, zikir dilakukan dengan metode sirri (pelan) atau jahr (keras), tergantung ajaran tarekat yang dianut. Tujuan utamanya adalah mendekatkan diri kepada Allah dan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.

 

Samadiyah di Subulussalam menjadi objek penting yang menarik untuk diamati karena dengan bahasa dan suku yang berbeda dengan suku-suku lain yang ada di provinsi Aceh yaitu suku Pakpak.

 

Beberapa akademisi dan praktisi budaya Aceh telah meneliti tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya takbenda yang perlu didokumentasikan dan dilestarikan.

 

”Budaya Samadiyah kepada orang meninggal di Subulussalam merupakan bagian dari tradisi keagamaan lokal yang sarat dengan nilai spiritual, sosial, dan budaya. Dalam konteks ini, Samadiyah bukan sekadar zikir rutin, melainkan juga menjadi ritual doa dan zikir yang dilakukan untuk mendoakan arwah orang yang telah meninggal dunia”.

 

Di masa mendatang, tradisi Samadiyah untuk orang meninggal di Subulussalam akan terus dijalankan sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian kepada orang yang telah wafat. Praktik ini akan menjadi bagian penting dari proses sosial dan spiritual dalam masyarakat, sekaligus akan memperkuat solidaritas antarwarga dalam menghadapi duka.

 

Setiap kali ada warga yang meninggal dunia, keluarga dan masyarakat sekitar akan mengadakan acara Samadiyah, biasanya pada malam pertama setelah penguburan, dan akan dilanjutkan pada malam ke-3, ke-7, ke-40, hingga ke-100 hari setelah kematian. Dalam kegiatan ini, jamaah akan berkumpul di rumah duka atau meunasah untuk membaca zikir, tahlil, doa, dan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditujukan bagi ruh almarhum/almarhumah. samadiyah juga dilaksanakan pada siang hari ketika ada kerabat yang berkunjung atau takziah ke rumah duka.

 

Seorang ustadz atau tengku zikir atau tokoh agama akan memimpin jalannya Samadiyah dengan menggunakan metode wirid tertentu yang diwariskan secara turun-temurun, biasanya berasal dari tarekat yang berkembang di wilayah tersebut.

 

Di samping nilai spiritual, tradisi ini akan memperkuat hubungan sosial antar warga. Gotong royong dalam menyiapkan tempat, konsumsi, dan perlengkapan acara Samadiyah akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan empati. Anak-anak muda juga akan diajak untuk mengikuti zikir ini sebagai bentuk pembelajaran spiritual dan kultural.

 

Meski tantangan modernisasi dan perbedaan pemahaman keagamaan akan tetap ada, masyarakat Subulussalam akan berupaya mempertahankan budaya Samadiyah sebagai warisan leluhur. Pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan akan diharapkan turut serta dalam mendukung pelestarian tradisi ini melalui pelatihan, dokumentasi, dan pengakuan resmi sebagai bagian dari budaya takbenda Aceh.

 

Dengan demikian, Samadiyah untuk orang meninggal akan tetap hidup sebagai ritual religius dan budaya yang sarat makna, menjadi simbol duka yang penuh kasih sayang dan harapan akan kehidupan akhirat yang lebih baik bagi mereka yang telah berpulang.[]

 

Zahraini Zainal,  dosen Universitas Bina Bangsa Getsampena, Banda Aceh.