Organisasi ini bergerak dalam tiga bidang, yakni sebagai tim yang memberi Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK) di daerah perang dengan membantu pemulihan para korban perang.
Kemudian yang kedua mereka juga menyiapkan apa yang disebut sebagai “Tenaga Terluang” yakni menyediakan kader-kader organisasi sebagai tenaga pembantu yang siap digerakkan kapan saja untuk kebutuhan di garis belakang perang, baik untuk urusan dapur umum, logistik dan lain sebagainya.
Selanjutnya bidang ketiga meliputi “Badan Keprajuritan” yakni Gabungan Partai-partai Pemudi Indonesia, Tionghoa dan India ini juga menyediakan para perempuan muda yang siap dilatih secara militer untuk terlibat langsung di garis depan peperangan.
Ketika pertama kali didirikan pada 8 Februari 1947, organisasi Gabungan Partai-partai Pemudi Indonesia, Tionghoa dan India ini dipimpin oleh Nurliah yang mewakili perempuan Aceh dan Tjun Ngo dari kalangan perempuan Tionghoa.
Lebih jelas tentang hal tersebut bisa dibaca dalam buku Modal Perjuangan Kemerdekaan: Perjuangan Kemerdekaan di Aceh 1947-1948 buku III diterbitkan pada tahun 1990 oleh Lembaga Sejarah Aceh (LSA). Buku ini ditulis oleh Kepala Seksi Publikasi Kementerian Penerangan Republik Indonesia, Teuku Alibasjah Talsya. Ia merupakan salah seorang pelaku pejuang kemerdekaan di Aceh.[**]


