Kamis, Juli 25, 2024

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...
BerandaAdakah Padanan Incumbent...

Adakah Padanan Incumbent dalam Bahasa Indonesia?

Dalam bahasa Inggris, incumbent tentu saja bukan lagi istilah baru. Kata berkelas nomina ini pertama kali digunakan pada tahun 1258 dalam literatur populer berbahasa Inggris yang maknanya yang sedang mengemban jabatan’ atau ’pengemban jabatan’. Asal-usul kata ini adalah dari kata Latin incumbere, yang hidup sampai sekarang dalam usia lebih dari 2.500 tahun (Salomo Simanungkalit, Kompas, 6 Februari 2009).

Salomo Simanungkalit, Kompas, 6 Februari 2009, menyebutkan, dalam politik, the incumbent adalah orang yang sedang memangku jabatan politik tertentu dan maju beradu dalam pemilihan untuk jabatan yang sama. SBY adalah the incumbent president dalam pemilihan presiden 2009. Sebutan ini berlaku bagi Megawati lima tahun silam.

Lebih lanjut, Salomo Simanungkalit (Kompas, 6 Februari 2009) menjelaskan, incumbent baru meroyak di negeri ini sejak 2004, justru ketika rakyat mendapat kesempatan pertama memilih langsung presidennya, tak lagi diwalikan kepada MPR. Di zaman Soeharto kata ini terbenam dalam-dalam di kamus sebab sia-sia bicara mengenai the incumbent president karena tak ada yang petentengan maju sebagai penantang.

Lantas, apakah padanan kata ini dalam bahasa Indonesia. Salomo Simanungkalit (Kompas, 6 Februari 2009) menyarankan pemakaian kata petahana  sebagai ‘jodoh setimpal’ bagi incumbent.

Pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) tidak ada lema Petahana, melainkan Tahana yang berarti kedudukan, martabat (kebesaran, kemuliaan, dsb). Jadi, kata Petahana merupakan kata turunan dari kata Tahana.

Pada kitab Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia, kata Tahana dirujuk ke kata Takhta yang berarti singgasana, kursi kerajaan, kedudukan, geta, mahkota, kekuasaan, kehormatan, persemayaman, posisi, tahana.

Dengan demikian, pilihan Salomo Simanungkalit pada kata petahana sebagai padanan kata incumbent bisa kita terima, mengingat tahana merupakan kosakata bahasa Indonesia yang lama tenggelam dan dihidupkan kembali.

Meski begitu, sebagian praktisi bahasa punya alternatif lain: mengalihaksarakan kata incumbent menjadi inkamben. Hal ini sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan bahwa penulisan unsur serapan bisa dilakukan sesuai dengan pengucapannya, dengan tetap mengindahkan kaidah bahasa Indonesia.

Dalam hal ini, penulisan ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Meski dapat dialihaksarakan, kata tersebut tidak kita temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia cetak atau daring.

Ririn Liechtiana, dalam Republika, 11 Desember 2015 mengusulkan kata lain sebagai padanan untuk kata incumbent, yaitu pejawat,yaitu orang yang sedang memegang posisi atau kuasa di pemerintahan. Lebih lanjut, Ririn menjelaskan, pejawat merujuk pada kedekatan makna, pembentukan sesuai pedoman atau kaidah, serta penerimaan.

Jadi, bahasa Indonesia sebenarnya punya kosakata sendiri yang bermakna sama dengan incumbent, yaitu petahana dan pejawat. Maka, mari gunakan kedua kata ini sebagai salah satu bentuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia, serta sebagai usaha meningkatkan harkat dan martabat bahasa Indonesia di mata dunia. []

Baca juga: