TAKENGON – Maraknya generasi Aceh yang terjerat dalam ragam pelanggaran tindak pidana, menjadi tugas penting bagi semua kalangan untuk intropeksi diri.
Akibat penyalahgunaan narkotika, pergaulan bebas, kenakalan remaja dan perilaku menyimpang serupa, kerap menjerumus generasi Aceh berhadapan dengan hukum. Hal itu juga diakibatkan dari lemahnya kontrol sosial masyarakat dan pengawasan orang tua dewasa ini.
“Terpenting adalah pengawasan orangtua. Karena pendidikan dalam keluarga menjadikan tonggak utama bagi sang anak dalam menjalankan kehidupannya,” demikian kata Anggota DPR Aceh Adam Mukhlis Arifin, SH, dalam tausiahnya pada penutupan MTQ Ke-10 Lintas Desa di Masjid Nurul Huda Yakin, Gampong Gemboyah Kecamatan Linge, Aceh Tengah, Jum'at 24 Juni 2016.
Politisi Partai Aceh (PA) dari wilayah tengah itu juga menilai, melemahnya pendidikan agamis juga faktor utama penyimpangan terjadi di kalangan remaja Aceh saat ini.
Menurutnya, budaya kontrol sosial sedia kala yang dilakukan moyang, penting untuk dilestarikan kembali agar mencegah generasi Aceh terjerumus di lubang kesesatan.
“Zaman dulu, kalau ada anak-anak berada diwarung saat jam pengajian, tentu dilarang. Begitu juga jika ada anak yang merokok, lingkungannya pasti akan memarah si anak itu, namun sekarang itu telah sirna, seolah-olah itu bukan urusan kita. Ini penting untuk kita lestarikan kembali,” ujar Wakil Ketua Komisi V itu.
Kedepan ia berharap, kiranya seluruh pondok pasantren dapat terisi penuh dengan peserta pengajian.
Adam Mukhlis juga meminta agar para tokoh agama dan tokoh adat untuk terus menggalakkan pengajian rutin dan ceramah agama usai shalat berjama'ah dilakukan.
“Begitu juga dengan MTQ. Kali ini hanya Gampong Gemboyah, Antara, Pantan Reduk dan desa Arul Item saja, lain kali mari kita kembangkan agar MTQ ini dapat terselenggara lebih semarak lagi,” demikian Adam Mukhlis Arifin.[]



