BANDA ACEH – Berbagai cara dilakukan untuk mengenang musibah gempa dan tsunami Aceh 12 tahun silam. Hal yang sama dilakukan pula oleh Aceh Library Consultant (ALC). Organisasi yang bergerak di bidang optimasi perpustakaan ini menerbitkan buku berisi kesaksian para korban dan berbagai harapan melalui pesan yang ditulis tangan.

Salah satu cetakan buku tersebut diberikan pada pengelola pustaka Museum Tsunami Aceh sebagai koleksi tambahan untuk museum.

Penyerahan buku Memori 12 Tahun Tsunami Aceh secara simbolis dilakukan oleh Rahmad Syah Putra, turut disaksikan Manager Program dan Kerja Sama ALC, Arkin, pada pengelola pustaka Museum Tsunami yang diterima oleh Koordinator Museum Tsunami Aceh, Almuniza Kamal, Minggu malam di Museum Tsunami Aceh, 25 Desember 2016.

Buku itu ditulis oleh Rahmad Syah Putra dan Zainal Arifin. Menurut Rahmad, proses penyusunan buku ini sudah direncanakan sejak 2015. Rencananya buku ini akan diluncurkan di Singapura pada Maret 2017 mendatang dalam sebuah event yang digelar penyair Singapura Rohani Din.

“Boleh dibilang ini murni sebuah kerja untuk mendokumentasikan sebuah peristiwa yang tejadi pada 12 tahun lalu. Sejak Agustus 2015, kami mulai menyisir orang-orang yang dianggap banyak bersentuhan dengan tsunami di Aceh, baik yang berada di dalam maupun luar negeri,” kata Rahmad melalui siaran pers, Senin, 26 Desember 2016.

Dalam buku itu, kata Rahmad, terdapat 22 nama yang berhasil dimintakan pesan terkait tsunami Aceh. Mereka menulis ceritanya masing-masing di atas kertas.

Dalam buku ini juga termuat beberapa tulisan dari sejumlah tokoh seperti Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung) yang juga arsitek Museum Tsunami Aceh, Ismail Cakmak (guru dari Turki), Prof. Fumihiko Imamura (Tahoko University, Japan), Dr. Abdullah Sani Yahaya (USM Malaysia), Zakaria Saman (mantan Menteri Pertahanan Gerakan Aceh Merdeka).[] (*sar)