Kamis, Juli 25, 2024

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...
BerandaBerita PidieKisah Yusri, Korban...

Kisah Yusri, Korban Tsunami Selamat di Pucuk Pohon Kelapa

SIGLI – Sudah 18 tahun berlalu musibah gempa dan tsunami yang melanda Aceh. Bahkan sebagian masyarakat mulai melupakan bencana alam dahsyat yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam itu. Namun, tidak bagi Yusri Puteh (51 tahun), tukang becak yang sekarang menetap di Gampong Labui, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie.

Hingga saat ini masih terekam dalam ingatan Yusri peristiwa yang meluluhlantakkan persisir Aceh. Musibah itu juga telah memisahkan dirinya dengan anak semata wayang– saat itu baru berusia 4 bulan–karena terlepas dalam gendongannya hingga digulung air bah.

Ditemui portalsatu.com, Senin, 26 Desember 2022, di rumahnya, Yusri mengisahkan cerita pilu yang dialaminya bersama istri.

Kala itu, Yusri bersama istri, Isna Helmi (45), dan bayi perempuan masih berumur 4 bulan, tinggal di sebuah rumah kontrakan berukuran kecil di Gampong Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh. Bersama mereka juga ada adik ipar Yusri, Dini.

Pada Ahad, 26 Desember 2004 pagi, Yusri belum berangkat mengais rezeki sebagai tukang becak yang mangkal di kawasan Pasar Aceh. Padahal, biasanya pukul 07:00 WIB dirinya sudah stand by di lokasi tersebut.

“Hari itu kebetulan belum berangkat. Tepat pukul 08:00 WIB, terjadi gempa. Kami dan semua warga berhamburan keluar rumah karena takut tertimpa reruntuhan bangunan,” kisah Yusri.

Setelah gempa reda, lanjut pria yang kini bekerja mocok-mocok, mereka hendak masuk kembali ke rumah untuk membereskan barang-barang yang berserakan akibat gempa. Tiba-tiba dikejutkan kembali teriakan warga mengatakan “air laut naik, air laut naik”. Tanpa pikir panjang lagi Yusri memegang tangan istrinya sambil mengendong bayinya langsung keluar rumah. Namun, baru saja sampai ke jalan depan rumahnya, gelombang besar menghantam tubuhnya hingga hanyut.

“Saya tetap merangkul bayi dengan erat sambil mengenggam tangan istri. Sementara adik ipar saya sudah tidak kelihatan lagi karena terseret air. Airnya sangat tinggi, setinggi pokok kelapa. Saat terseret saya dapat meraih pucuk pohon kelapa dengan memegang nyiurnya. Saat meraih nyiur itulah anak dalam rangkulan saya lepas dalam derasnya air,” ungkap Yusri.

Yusri dan istrinya selamat di atas pohon kelapa hingga air surut. Setelah turun, mereka langsung berjalan ke Masjid Lanteumen, tapi karena belum merasa aman, khawatir air naik lagi, akhirnya mereka pergi dan berlindung di Masjid Seutui.

Keesokan harinya, baru Yusri dan istrinya pergi ke rumah sanak keluarga hingga akhirnya dijemput keluarga pulang ke kampung kelahirannya, Labui, Kecamatan Pidie.

“Semua harta saya, seperti becak, pakaian dan barang lainnya hilang tanpa bekas. Di kampung, saya mencoba menyambung hidup dengan bekerja apa saja asalkan halal,” kata Yusri.

Sejak musibah itu hingga kini, Yusri mengaku hanya sekali mendapat bantuan jatah hidup (jadup) sekitar Rp500 ribu saat dirinya sudah di Gampong Labui. Sedangkan bantuan lainnya termasuk rumah dan kebutuhan usaha tidak pernah dia terima.

“Memang data ada diminta oleh beberapa lembaga termasuk pemerintah, tapi bantuan tak pernah ada,” ucap Yusri.[](Zamahsari)

Baca juga: