Dek, kami sudah antre lama, beri kesempatan pada yang lain boleh?” tegur saya kepada pria muda berjanggut dan bercelana jinggrang. Kejadiannya Jumat lalu di ATM dekat masjid usai Jumatan.

“Ini bukan ATM bapak, jika tidak mau menunggu cari aja tempat lain, kok ngatur ngatur,” sahut pemuda itu dengan wajah garang. Dia terus melanjutkan transaksi transfer.

Sahabat!!!

Sejatinya kita menemukan banyak kejadian seperti itu. Orang-orang yang hanya berpikir kemaslahatan diri. Tidak peduli dengan urusan orang lain. Pura-pura cuek dengan lingkungannya.

Mirisnya cara berpakaian yang mengacu pada kesalehan. Atau mengisi panggung-panggung ceramah. Bahkan, khutbah, tapi perilaku keseharian negatif. Para politikus menjadi contoh konkret perilaku ini.

Dalam bisnis, kita menemukan orang begini. Berpakaian dan berbicara serba meyakinkan. Tapi ketika dipercaya, berkhianat. Ternyata penampilan dan narasi bagus tidak lebih kamuflase. Tujuan mencari keuntungan pribadi. Bahkan dengan merugikan orang lain.

Maka integritas tidak sepenuhnya pada penampilan. Apalagi pada kemampuan verbal. Integritas atau alimnya seseorang ditentukan pada pola tindaknya. Terutama pada saat kekuasaan berada di tangannya.[]