ACEH UTARA – Puluhan alumni Dayah Darul Falah, di Gampong Pulo, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, berkumpul untuk silaturahmi melalui kegiatan sahur bersama, di kompleks dayah itu, Kamis, 14 Juni 2018.

Silaturahmi alumni 1963-2017 itu dikoordinir oleh Waled Mustafa M. Isa, S.Pd.I., yang sekarang menjabat Pimpinan Dayah  Darul Falah. Menurut Waled Mustafa, kegiatan ini untuk menyatukan kembali ikatan persaudaraan alumni yang sudah lama renggang.

“Alhamdulillah dengan kerja sama yang terbina dari komunikasi via grup WA (WhatsApp) Alumni Dayah Darul Falah yang dibentuk dan dibina oleh alumni aktif, akhirnya disepakati kegiatan sahur bersama ini,” ujarnya.

Para alumni dayah itu yang rata-rata selama ini berada di luar daerah, terlihat antusias menghadiri kegiatan sahur bersama. Sementara para santri yang mondok di Dayah Darul Falah tersebut sudah pulang kampung karena libur sejak awal bulan Ramadhan ini.

Dayah itu didirikan pada 17 Juli 1962 oleh Tgk. H Muhammad Isa (Abu Isa di Mulieng). Awalnya, dayah tersebut hanya  satu balai pengajian sederhana. Kini, dayah itu memiliki sejumlah balai pengajian dan bilik untuk santri. Sejak 2013 lalu dayah ini sudah melebarkan sayapnya dengan mendirikan Madrasah Aliyah Swasta (MAS) dan MTsS al-Falah di kompleks dayah tersebut.

Sejak awal didirikan, dayah ini mengkaji secara aktif dan mendalam ilmu falak. Bahkan, sejak dulu dayah tersebut merupakan mitra tetap Badan Hisab dan Rukyah (BHR) MPU Aceh Utara untuk menentukan kiblat, penentuan Ramadhan, dan beberapa hal terkait lainnya. Sehingga, dayah itu merupakan pusat kajian ilmu falak di Kabupaten Aceh Utara.

“Perlahan kami terus membenahi kurikulum dan fasilitas yang ada di dayah ini. Awalnya, dayah ini murni salafi. Kini, kami mendirikan Madrasah Aliyah dan Tsanawiyah. Kami akan tetap memadukan salafi dengan kurikulum Kementerian Agama, sehingga ciri-ciri salafi di dayah ini akan tetap ada,” sebut Waled Mustafa.

Khusus untuk MAS Darul Falah, kata Waled Mustafa, pihaknya menerima siswa baru sampai 30 Agustus mendatang. “Kami hanya mengambil biaya pendaftaran, SPP, dan biaya pemondokan di dayah sebesar 300.000/bulan. Kami juga sedang mencari orang tua asuh untuk santri di sini, sehingga seluruh biaya bisa gratis,” ujar Waled Mustafa.

Manajemen dayah ini terus berbenah. Harapannya dayah tersebut semakin eksis dan berkembang untuk memberikan ilmu kepada umat Islam dan mencerdaskan generasi penerus bangsa.[]

Penulis: Abel Pasai