BLANGKEJEREN – Hal itu disampaikan Amru dalam acara temu ramah dengan Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc., dan Anggota DPR RI asal Aceh, Salim Fahri, Selasa, 12 November 2019, di Balai Musara, Blangkejeren, Gayo Lues.

Menurut Amru, banyak organisasi atau lembaga yang berbicara isi Leuser, tapi belum pernah mengunjungi hutan Leuser, serta tidak mempunyai kantor di daerah tersebut. Di sisi lain, kata Amru, pengawasan terhadap Leuser juga lemah dan kurang terkontrol, sehingga masih terjadi penebangan di taman nasional tersebut. Malah ada yang membuka lahan untuk menanam ganja.

“Berdasarkan data yang kami terima untuk tahun 2017, 900 warga Gayo Lues ditahan karena persolan ganja. Mereka dari menanam ganja ini tidak ada yang kaya raya, yang ada hanya meninggalkan keluarga yang menjadi miskin,” katanya.

Karena itu Amru berharap harus dilakukan peningkatan pengawasan terhadap hutan disertai patroli untuk menjaga hutan belantara tetap terjaga. “Untuk mengawasi hutan dan ada kontribusinya bagi masyarakat Gayo Lues, kami meminta kepada Dirjen agar kantor NGO yang fokus pada penyelamatan hutan dan lingkungan dipindahkan ke Gayo Lues, sebab hutan Leuser di Gayo Lues dan Aceh Tenggara lebih luas dari kabupaten lain,” harapnya.

Anggota Komisi IV DPR RI, Salim Fahri mengatakan, siapapun yang hendak membahas hutan Leuser harus melibatkan putra daerah Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Di dua kabupaten itu, luas hutan Leuser melebihi dari kabupaten lain.

“10 kabupaten memiliki hutan Leuser, tetapi dari 10 kabupaten itu, Kabupaten Gayo Lues dan Aceh Tenggara masih jauh tertinggal dari yang lainnya. Jadi ke depan, Pemerintah harus memberikan bantuan bibit apa yang mau ditanam masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Dirjen KSDAE, Wiratno, mengatakan, apa yang diharap masyarakat Gayo Lues terkait pemindahan kantor NGO ke Gayo Lues akan menjadi prioritas pembahasan pihaknya, permintaan itu akan disampaikan kepada Menteri dan juga Presiden RI.

“Mengenai permintaan kantor NGO dan juga kantor Balai Besar TNGL di Medan dipindahkan ke Gayo Lues akan saya sampaikan kepada Menteri dan Presiden, memang alasanya sangat tepat karena dua per tiga hutan Leuser berada di Gayo Lues,” katanya. [Win Porang]