BANDA ACEH – Ayah Jekki Basri, Meman, mengaku kesulitan untuk memenuhi kebutuhan biaya hidupnya selama anaknya dirawat di Banda Aceh. Pasalnya pria asal Trans Laecikala, Kecamatan Suro Baru, Aceh Singkil itu hanya bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang tidak memadai.

Seperti diberitakan sebelumnya, anaknya Jekki Basri yang saat ini berusia 4,8 tahun menderita myeloma. Jekki sedang dirawat di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSUZA Banda Aceh. (Baca: Derita Bocah Aceh Singkil Idap Tumor Ganas)

“Saya bekerja di sana (Aceh Singkil). Anak ada tujuh. Lima masih pendidikan, dua lagi belum sekolah kerena masih kecil,” kata kata Meman kepada portalsatu.com saat ditemui di Haba Cafe Banda Aceh, Senin sore, 25 Januari 2015.

Untuk biaya pengobatan anaknya Meman mengaku jika dirinya sangat terbantu dan dimudahkan dengan adanya BPJS Kesehatan. Namun, selama di Banda Aceh ia terkendala dengan biaya hidup karena semua harus dibeli.

“Untuk datang ke Banda Aceh saja, meminjam uang dari sanak famili dan tetangga di Aceh Singkil,” katanya.

Saat pertama kali Jekki dirujuk ke RSZA pada Rabu, 9 Desember 2015 lalu dan Jekki belum mendapatkan ruangan, Meman tidur di balai yang ada di area rumah sakit. Ia tidak punya biaya untuk menyewa penginapan.

“Kalau biaya kami sangat kesulitan. Biaya untuk ke sini (Banda Aceh) saja kami pinjam dari tetangga dan keluarga. Pemerintah daerah juga belum memberi bantuan apapun,” katanya mengulang pernyataan sebelumnya.

Meman menunggui buah hatinya bersama sang istri Mariah. Selama di Banda Aceh otomatis ia tidak bisa mencari nafkah. Ia juga mengaku mendapat uluran bantuan seperti dari perawat di RSZA dan komunitas Children Cancer Care Community (C-Four).

“Mungkin kalau nggak ada yang bantu kemarin itu, kami udah cabut (pulang),” tuturnya. 

Ia sangat berterima kasih kepada orang yang telah membantunya. Meski begitu ia masih berharap uluran bantuan dari berbagai pihak. (Baca: Tumor Ganas Jekki Berawal Dari Sakit Gigi)

Ketua komunitas C-Four, Ratna Eliza, menuturkan, pihaknya merasa kasihan pada penderita kanker yang berasal dari keluarga kurang mampu. Meski pihaknya sudah memberi bantuan untuk keluarga Meman, ia berharap pemerintah juga turut memberikan perhatian.

“Sebenarnya banyak masyarakat kurang mampu yang harus diperhatikan. Banyak yang enggan berobat karena kurang biaya. Masyarakat kurang mampu butuh biaya untuk berobat dan biaya hidup,” ujarnya.[] (ihn)