PERTAHANAN nasional itu harus sejalan seiring dengan penguatan ekonomi perkapita KK di seluruh negeri.

Tidak mungkin sebuah negara mempertahankan kedaulatannya secara de facto dan de jure jika sebagian rakyatnya melarat dan negaranya semakin banyak utang.

Sebaliknya, negara yang tidak memiliki hutang, akan mempunyai kekuatan lebih di dunia internasional, pemimpinnya akan disegani oleh negara lain dan bisa bicara lantang, serta warga negaranya dihormati.

Sebagai contoh, dalam beberapa tahun terakhir, Turki adalah negara yang memahami ini. Mereka bisa membuat angka utang negara menjadi nol, dan berbalik menjadi negara pemberi peminjaman.

Aku teringat pada suatu cerita di dalam film dokumentari sejarah 'Fetih 1453'. Ketika Raja Romawi meminta sebuah negara di Eropa untuk tidak membantu Ottoman, tapi sang raja membalas surat ultimatum itu dengan surat yang berisi 'Negara kami tidak memiliki utang pada negaramu'.

Itu bermakna, negara itu merdeka dan tidak bisa diperintahkan oleh negara manapun.

Oleh karena itu, kita bisa menghitung sendiri, berapa utang negeri ini dan dari negara mana saja?

Dalam ilmu investasi, utang yang dibenarkan adalah utang produktif, bukan utang konsumtif. Yaitu, utang yang dijadikan modal untuk usaha yang diyakini bisa menghasilkan laba yang rutin dan banyak.[]