LHOKSEUMAWE Humas PT Kertas Kraft Aceh (Persero), Bustami mengaku belum mengetahui tentang rencana Kementerian BUMN menjual perusahaan penghasil kantong semen itu kepada investor strategis. (Baca: PT KKA Akan Dijual Tahun Ini )
Hana tateupeu lom nyan, karna golom na info dari Jakarta (tidak tahu tentang itu, karena belum ada informasi dari managemen PT KKA yang berkantor di Jakarta), ujar Bustami dihubungi portalsatu.com lewat telpon seluler, Jumat, 15 Januari 2016.
Bustami menyebut perkembangan terakhir yang ia ketahui, Pemerintah Aceh telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan perusahaan asal Singapura, Floresta LTD, 7 Desember 2015, terkait rencana menghidupkan kembali PT KKA. (Baca: Hidupkan Kembali KKA, Gubernur Aceh Teken MoU dengan Perusahaan Asal Singapura)
Menurut Kepala Biro Hukum Setda Aceh, Edrian, MoU itu sebagai First Agreement yang nantinya akan diajukan kepada Pemerintah Pusat untuk mendapat persetujuan. (Baca: Soal Pengelolaan PT KKA, Kepala Biro Hukum: Jika Pusat Tidak Setuju Maka Perjanjian Akan Gugur)
Bustami menjelaskan, PT KKA sedikit berdenyut kembali pada pertengahan 2014 setelah operasional perusahaan itu terhenti total sejak 2008 akibat persoalan bahan baku yaitu kayu pinus dan suplai gas.
Hasil kerja sama dengan (PT) PLN melalui program sinergi BUMN, kita produksi (daya) listrik sekitar 12 MW dari salah satu mesin (turbin uap PT KKA yang dihidupkan dengan gas disuplai dari Kilang Arun). Itu berjalan sekitar tiga bulan, Juni sampai September, kemudian Oktober 2014 disetop dulu. Kita evaluasi kembali bersama PLN untuk efisiensi, karena agak boros, tekor pada gas, ujar Bustami.
Selain itu, kata Bustami, pihaknya juga mengevaluasi kendala teknis terkait satu unit turbin lainnya. Sedangkan PT PLN, kata dia, membenahi jaringan listrik untuk dua jalur. Yakni, jalur dari PT KKA ke wilayah Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara dan Lhokseumawe (arah timur dari PT KKA) dan Kecamatan Sawang, Aceh Utara hingga Gandapura, Bireuen (arah barat).
Jika proses ini berjalan lancar, diperkirakan pada Maret nanti kita akan produksi listrik 22 MW dari dua mesin di KKA. Dari 22 MW itu, 2 MW untuk penerangan KKA, sisanya (20 MW) dijual ke PLN. Sebelumnya saat produksi 12 MW dari satu mesin, untuk kita 2 sampai 2,5 MW, diambil PLN 7,5 sampai 9,5 MW, kata Bustami.
Bustami mengakui kegiatan tersebut (KKA memproduksi daya listrik hasil kerja sama dengan PLN melalui sinergi BUMN) merupakan gagasan Menteri BUMN saat dijabat Dahlan Iskan pada 2012.
Menurut Dahlan, keuntungan dari produksi listrik yang dijual ke PLN dapat menutupi kebutuhan gaji para karyawan KKA. Itu cukup untuk gaji pegawai, daripada mereka rugi terus?” kata Dahlan, seperti dikutip republika.co.id, 18 Februari 2012.
Bustami mengatakan, saat ini jumlah karyawan PT KKA sekitar 180 orang. Sekarang 90 karyawan untuk menjaga dan merawat aset-aset KKA, 60 orang di antaranya merupakan satpam. Dan, sekitar 90 orang lainnya untuk mengoperasikan mesin (turbin) listrik itu, ujarnya.
Sebelumnya, kata Bustami, ketika KKA masih memproduksi kantong semen, jumlah karyawan domestik saja mencapai 900 hingga 1.000 orang. Tahun 2009, di-PHK (pemutusan hubungan kerja) sekitar 900 karyawan, karena KKA berhenti beroperasi sejak 2008, kata Bustami.
Meski belum mengetahui rencana Kementerian BUMN menjual PT KKA kepada investor, Bustami berharap pemerintah menghidupkan kembali perusahaan ini untuk produksi kantong semen, sehingga dapat menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah lebih banyak.
Apalagi pabrik (penghasil) kantong semen di Indonesia cuma satu, KKA ini. Kita yakin pemerintah akan mencari solusi terbaik untuk menghidupkan kembali pabrik ini, karena Presiden Jokowi (saat meresmikan beroperasinya Terminal dan Regasifikasi LNG Arun, di Lhokseumawe, Maret 2015) sudah menyampaikan komitmen itu. Kita lihat Pemerintah Aceh juga serius melakukan langkah-langkah ke arah itu, ujar Bustami.[] (idg)


