Ada 7000 bahasa di dunia ini dan digunakan oleh hampir tujuh miliar orang (republika.co.id, 28 Desember 2015). Namun, dalam tradisi tulisan, tak semuanya memiliki aksara khusus seperti bahasa Cina, Arab, dan India.
Bahasa daerah di Indonesia juga tidak semuanya memiliki aksara khusus. Tercatat, hanya bahasa Bugis, Makasar, Batak, Jawa, Sunda, dan Bali yang punya sistem tulisan tersendiri.
Bentuk aksara yang dimiliki oleh bahasa-bahasa tersebut tidaklah sama. Ini karena bahasa tulisan tidak universal seperti bahasa lisan.
Apakah bahasa Aceh memiliki aksara khusus? Sejauh ini diketahui bahwa bahasa Aceh tidak memiliki aksara khusus seperti bahasa Bugis, Makasar, Batak, Jawa, Sunda, dan Bali. Sistem tulisan bahasa Aceh berupa menggunakan aksara Latin dan Arab Melayu. Meski demikian, aksara Latin yang dipakai dalam bahasa Aceh agak berbeda dengan aksara Latin yang dipakai oleh bahasa Indonesia.
Aksara Latin bahasa Aceh menggunakan tanda diakritik seperti bahasa Prancis: /è/, /é/, /?/, /èe/, /ô/. Ini terlihat jelas dalam kata seperti, bèk jangan, adék adik, b?h buang, kayèe kayu, gampông kampung.
Dalam bahasa Prancis tanda diakritik berjumlah 6, yaitu aigu, grave, makron, sedil, dan diftong. Dari keenam itu, bahasa Aceh hanya memiliki 5 tanda diakritik, yaitu aigu /é/, grave /è/, makron /ô/, trema /ö/, dan apostrof //.
Aigu (é) digunakan pada huruf [e] seperti malém (alim), padé (padi), bacé (ikan gabus), até (hati), kéh (kantong baju/celana), kréh (keris), dan maté (mati).
Berbeda dengan aigu, grave (è) dibubuhkan pada huruf [e] yang bunyinya seperti pada kata bebek dalam bahasa Indonesia, misalnya kèh (korek api), bèk (jangan), malèe (malu), kayèe (kayu), bijèh (bibit).
Lalu ada makron (ô). Aksen ini dipakai jika ada huruf [o] dalam bahasa Aceh bunyinya seperti kata bobok dalam bahasa Indonesia. Kata-kata itu misalnya bôh (tuangkan, isi), crôh (goreng), lhôh (sorot), peunajôh (makanan).
Setelah makron, ada juga trema (ö). Trema digunakan pada huruf-huruf, seperti böh (buang), nyang töh (yang mana), lhöh (bongkar), meudhöh-dhöt (lambat). Bunyi huruf dengan aksen trema ini adalah khas dalam bahasa Aceh. Dikatakan demikian karena tidak ada bunyi yang sedemikian rupa dalam bahasa Indonesia.
Terakhir, apostrof. Tanda ini digunakan pada huruf-huruf berbunyi sengau dalam bahasa Aceh (su cho), misalnya hiem, paak, meua-a, maop, meuie-ie. Huruf dengan bunyi sengau ini sangat produktif dalam bahasa Aceh.
Menurut catatan sejarah, aksara itu diperkenalkan oleh Snouck Hurgronje, orientalis Belanda. Menurut catatan sejarah, tanda itu pertama sekali digunakan Snouck Hurgronje (orientalis Belanda). Ini dapat dilihat dalam buku-buku yang ditulis oleh Snouck.
Atas dasar itu, aksara bahasa Aceh yang menggunakan sejumlah tanda seperti yang disebutkan di atas selanjutnya disebut ejaan Snouck. Hingga hari ini aksara ini masih digunakan oleh kalangan akademisi ketika menulis menggunakan bahasa Aceh.
Meski bahasa Aceh menggunakan sejumlah tanda diakritik seperti bahasa Prancis, bukan berarti bahasa yang dikenal berasal dari bahasa Campa ini, memiliki sistem tulisan atau aksara khusus. Bandingkan dengan bahasa Jawa yang punya sistem aksara tersendiri.[]


