BANDA ACEH – Pengamat Politik Aceh Aryos Nivada, mengatakan, ada beberapa blunder fatal terkait perbedaan pernyataan Tarmizi A. Karim dan Nova Iriansyah tentang pernyataan Tarmizi didukung Demokrat untuk bakal calon gubernur Aceh 2017-2022.
Aryos mengatakan, ada dua kemungkinan Tarmizi berani mengklaim diri. Kemungkinan pertama, ia sudah mendapatkan restu dari SBY, karena dari informasi beredar selama ini kedekatan Tarmizi dengan SBY tergolong kuat. Ibarat main jalur jalan tol, kata Aryos, tanpa komunikasi dengan DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) Partai Demokrat Aceh, tindakan Tarmizi potong kompas.
Langkah Tarmizi Karim pastinya sudah membangun komunikasi di level atas, tapi melupakan komunikasi di level bawah (DPW). Bisa dibilang tidak solid di tataran DPW. Atau kemungkinan kedua, sebaliknya dirinya menerapkan strategi politik agar tidak dijarah peluang kursi Partai Demokrat oleh kandidat lain. Tapi strategi ini dianggap tidak masuk akal, kata Aryos dalam siaran persnya, Jumat, 29 Januari 2016.
Aryos mengatakan, sikap Ketua Demokrat Aceh Nova Iriansyah membantah pernyataan Tarmizi akan berakibat fatal. Ia mempertanyakan apakah Nova tidak memikirkan dampak bahwa dirinya bisa diganti dari jabatan ketua DPW oleh SBY karena SBY Ketua Umum, jika Tarmizi melapor kepada SBY.
Otoritas penentuan gubernur Aceh tetap ditentukan DPP, yakni Ketua Umum Demokrat. Bukan pada ketua DPW. Pastinya Tarmizi Karim tidak tinggal diam atas tindakan Nova Iriansyah yang membantah di media. Kita lihat langkah yang diambil Tarmizi Karim untuk Nova Iriansyah, kata Aryos yang juga Direktur Eksekutif Politik Desain.
Menurutnya, pernyataan Tarmizi bahwa dirinya mendapat dukungan dari Demokrat, bukan Partai Demokrat mengusung dirinya adalah hal yang berbeda. Mendukung, kata Aryos, itu lebih berkaitan dengan dukungan moral, sedangkan mengusung terkait administratif.
Ataukah tindakan Ketua DPW (Partai Demokrat Aceh) Nova Iriansyah karena membantah pernyataan Tarmizi Karim, karena diminta ketegasan dibungkus perintah Muzakir Manaf (basis Koalisi Aceh Bermartabat). Publik mengamati Muzakir Manaf dengan Nova Iriansyah memiliki kedekatan relasi yang dalam. Tidak menutup peluang sudah terjalin deal politik antara Muzakir Manaf dengan Nova Iriansyah, sehingga dirinya melakukan hal itu, kata Aryos.
Aryos menilai, seharusnya Nova Iriansyah mengkomunikasikan dengan SBY, selaku Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, terlebih dahulu sehubungan pernyataan Tarmizi, bukan hanya komunikasi sebatas Sekjen Demokrat.
Ini blunder dalam cara berkomunikasi Nova Iriansyah sebagai Ketua Demokrat (Aceh). Blunder kedua, Nova Iriansyah sudah terlebih dahulu mengatakan mendukung Muzakir Manaf tanpa syarat serta tanpa dikomunikasikan keputusan tersebut kepada Ketua Umum dan Majelis Tinggi Partai Demorkat, kata Aryos Nivada.[](tyb)

