Duta besar AS untuk PBB mengatakan bahwa AS tak lagi memprioritaskan untuk menyingkirkan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Pada wartawan, Kamis (30/03), Duta besar Nikki Haley mengatakan bahwa “kita tak bisa berfokus pada Assad seperti yang dilakukan administrasi sebelumnya”.

Di bawah Presiden Barack Obama, AS mengatakan bahwa Assad harus pergi dan mendukung pemberontak yang melawannya.

Namun sumber daya AS kemudian beralih setelah kemunculan kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam atau ISIS.

“Prioritas kami bukan lagi di sana dan berfokus menyingkirkan Assad,” kata Haley.

“Prioritas kami adalah melihat bagaimana melakukan sesuatu, dengan siapa kita harus bekerja untuk membuat perubahan bagi orang-orang di Suriah,” katanya.

Koresponden BBC di Kementerian Luar Negeri AS Barbara Plett Usher mengatakan bahwa Haley menyatakan secara gamblang sesuatu yang selama ini, secara diam-diam, sudah menjadi kebijakan AS.

Perlawanan terhadap ISIS di Suriah menjadi prioritas utama pada tahun terakhir pemerintahan Obama, kata koresponden kami.

Dan masuknya Rusia pada perang di 2015 untuk mendukung Assad, secara efektif menutup kemungkinan terkecil Washington untuk membantu oposisi dalam menggulingkannya.

Saat berbicara dalam kunjungan di Turki pada Kamis, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan bahwa masa depan Assad “akan diputuskan oleh warga Suriah”.

Wakil oposisi Suriah “menyayangkan” pernyataan Haley tersebut, dan menambahkan bahwa wakil Amerika mengirimkan “pesan yang berlawanan”.

“Kami dengar juru bicara Gedung Putih membantah apa yang dikatakan oleh Tillerson hari ini di Turki,” kata anggota oposisi Farah al-Atassi pada wartawan di Jenewa.

“Mereka jelas-jelas mengatakan bahwa Assad tak punya peran dalam periode transisi.”

Presiden Donald Trump sudah berjanji untuk bekerja lebih dekat dengan Rusia, yang telah mendukung Assad lewat kekuatan militer dalam perang sipil Suriah.[]Sumber:BBC