LHOKSEUMAWE – Nasri terlihat sibuk mengutak-atik tuas di kokpit helikopter. Siang itu, Rabu, 22 November 2017, di area sawah dekat jalan Gampong Dayah Meunara, Kuta Makmur, Aceh Utara, jadi hari bersejarah bagi pria 30 tahun itu. Pasalnya, hari itu untuk pertama kali Nasri menguji hasil kerja kerasnya sejak setahun lalu. Akan tetapi, heli bermesin mobil bekas itu hanya terangkat sedikit ke udara.
“Ka teusut baot, bak suwee bak iku heli, bhan jih ka itamong lam leuhob (Ada baut longgar, pada baling-baling di ekor heli, bannya masuk ke dalam lumpur),” kata pria lajang itu sembari tersenyum diikuti gelak tawa sejumlah warga yang ikut menyaksikan upaya terbang perdana itu.
Sejumlah peralatan bengkel tempatnya bekerja ikut dibawa ke lokasi. Kerusakan pada baling-baling ekor pun diperbaiki. Tak lama, mesin heli dihidupkan lagi. Suara menderu, baling-baling belakang dan utama pun berputar dengan kencang layaknya helikopter pabrikan. Namun, lagi-lagi gagal terbang.
Siang jelang sore, Nasri bersama sejumlah rekannya berjalan meninggalkan heli di area sawah. Warga pun berangsur bubar dari lokasi itu.
“Sebenar jih nyo kon taneuk peu po, tapi ta uji nak ta tupu pat-pat mantong nyang golom paih (sebenarnya ini bukan untuk diterbangkan, tapi saya uji, biar saya tahu di bagian mana saja yang belum pas),” kata pria yang akrab dipanggil Momo saat duduk bersama sejumlah awak media di warung.
Ia tak ragu dan sangat yakin, helikopter rakitannya bisa terbang layaknya heli pabrikan. Pasalnya, dalam proses perakitan, Momo tetap memegang prinsip dasar kerja helikopter, yaitu daya untuk bergerak dari putaran rotor bentuk aerofoil yang mirip dengan sayap pada pesawat terbang.
Memurutnya, saat rotor berputar, udara akan bergerak pada permukaan atas rotor mengakibatkan tekanan di atas rotor rendah dari yang di bawah rotor. Tekanan ini pula yang dianggap akan mengangkat helikopter ke atas.
“Saya banyak baca di internet dan dari tayangan Youtube. Kemudian saya coba terapkan di sela-sela saya kerja di bengkel, mungkin saat ini hanya butuh sedikit perbaikan lagi, saya yakin setelah itu bisa terbang,” kata Momo.
Momo bercerita, nekat membuat heli itu berawal dari keinginannya menjadi seorang mekanik mahir dan bisa bekerja di pabrik seperti Pindad. Cita-cita itu kandas karena lahir dari keluarga tidak mampu asal Geulumpang Minyeuk, Pidie. Bermodal hasrat tinggi itu, tiga tahun lalu, Momo yang hanya lulusan SMP memberanikan diri bekerja sebagai montir amatir di sebuah bengkel milik Apa Raman, seorang guru di Kuta Makmur, Aceh Utara.
Pada pertengahan Ramadan tahun 2016 lalu, dia mulai mengumpulkan besi bekas di sekitar bengkel tempatnya bekerja. Rencananya itu sempat dicemooh warga setempat, bahkan rekannya menilai Momo sudah gila. Akan tetapi, pria itu tetap dengan pendiriannya, besi-besi bekas mulai dilas sehingga menjadi rangka dasar heli.
Pakai Mesin Bekas
Momo mengaku sempat bingung ketika rangka sudah selesai dan mesin belum ada. Akhirnya, ia punya ide untuk memasang mesin mobil. Ia pun meminjam dana dari pemilik bengkel, dengan modal Rp4 juta, mesin sebuah mobil bekas merek Suzuki Carry tahun lama dia dapatkan dari seorang rekan.
“Waktu itu saya punya uang Rp500 ribu, saya pinjam dari bos bengkel, total harga mesin bekas itu hanya Rp4 juta. Mesin itu awalnya dalam kondisi rusak, saya perbaiki akhirnya hidup lagi,” tutur Momo.
Namun, Momo masih ragu dengan kondisi mesin bekas itu. Dia khawatir saat terbang mesin mogok. Harapan awal bisa membeli mesin baru, sehingga tidak was-was rusak. Lagi-lagi keinginannya itu tidak sampai, gara-gara tak cukup uang.
Untuk biaya pembuatan helinya itu, Momo harus merogoh kocek lebih kurang Rp30 juta, sumbernya dari hasil upah kerja di bengkel sehari-hari dikumpulkan dan sisanya dari pinjaman orang-orang, terutama dari pemilik bengkel yang akhirnya mendukung upayanya itu.
Walaupun belum sempurna, pria itu merasa bahagia karena dalam segala keterbatasan bisa membuat prototipe helikopter. Ia tidak menghiraukan celoteh miring dari banyak orang, yang penting terus berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan asa.
“Buat saya yang penting ada kemauan, tidak malas dan terus berkarya. Insya Allah apapun yang kita inginkan bisa terwujud,” tutup Momo sembari mengaku ingin melanjutkan kerja di bengkel.
Keberadaan helikopter karya Momo saat ini masih menjadi perbincangan di sosial media, dan langsung viral sejak beberapa video saat uji coba diunggah ke Youtube beberapa hari lalu oleh sejumlah warga. Banyak netter mendukung usaha Momo itu, tetapi tak kurang juga yang merasa pesimis.[]


