“Atas perhatiannya, diucapkan terima kasih.” Ini kalimat yang sering diucapkan seseorang kepada orang lain sebagai ungkapan terima kasih, baik lisan maupun tulisan. Sepintas tidak ada yang salah dalam kalimat tersebut. Namun, bila dilihat dengan saksama, tampak kesalahan nalar pada kalimat tersebut.

Kesalahan yang dimaksud adalah pada penggunaan kata ganti orang yang tidak tepat pada surat dan/atau pidato.

Umumnya, orang mengakhiri surat dan/atau pidatonya dengan, “Atas perhatiannya, diucapkan terima kasih.” Karena sudah biasa digunakan banyak orang, pernyataan seperti itu juga tidak dianggap janggal.

Padahal, jika dipikirkan sungguh-sungguh, dalam pernyataan itu tidak jelas siapa yang memberi perhatikan dan siapa yang mengucapkan terima kasih. Mengapa? Karena akhiran /-nya/ pada perhatiannya dan awalan /di-/ pada diucapkan, sama-sama mengacu pada orang ketiga, bukan orang pertama dan orang kedua yang sedang berkomunikasi. Oleh karena itu, agar jelas siapa yang memberi perhatian dan siapa yang mengucapkan terima kasih, pernyataan itu harus diubah, misalnya, menjadi Atas perhatian Bapak/Ibu/Saudara, kami/saya ucapkan terima kasih.

Ubahan itu meyakinkan bahwa yang memberi perhatian adalah orang kedua: Bapak, Ibu, atau Saudara, dan yang mengucapkan terima kasih adalah orang pertama: kami atau saya. Dengan demikian, syarat komunikasi pun terpenuhi: antarorang pertama/orang kedua, antarpembicara/pendengar, atau antarpenulis/pembaca.[]