Selama itulah ia mengembangkan dirinya di luar band Shihad, dan menulis tesis tentang musik budaya Sudan yang dia nikahi, serta memulai pekerjaan sampingan sebagai guru.
Pada 15 Maret 2019, kabar penembakan di dalam masjid Al Noor di Christchurch menjadi berita yang selalu memenuhi media massa, bahkan di dunia. Toogood sedih dan marah karena peristiwa itu terjadi di negara tempat dirinya dibesarkan dan yang ia cintai.
“Namun momen itulah yang membuat saya berpikir, inilah saat yang tepat untuk bicara bahwa saya telah masuk Islam,” ujarnya.
Musisi Selandia Baru berdiri di belakang komunitas Muslim dengan penggalangan dana You Are Us di Stadion Christchurch. Mereka menampilkan barisan lokal termasuk Lorde dan Marlon Williams. Shihad dan The Adults juga ikut, dan Toogood tiba di Christchurch sehari sebelum konser.
Sepekan sebelumnya, Toogood menceritakan kisah mualafnya ke sebuah surat kabar Selandia Baru. “Orang-orang dari masjid Al Noor membawa saya ke depan. Ini tanda rasa hormat yang besar. Semakin dekat Anda ke depan, semakin dekat Anda dengan Tuhan,” katanya kepada surat kabar itu.
“Salah satu bagian dari sholat adalah gerakan yang disebut sujud, di mana Anda menyentuhkan kepala ke tanah. Dan ketika saya lakukan itu baru saya sadari, lantai ini dilapisi dengan karton. Dan alasannya tertutup karton karena di bawahnya hanya ada darah. 51 orang telah dibunuh di ruangan ini.”
“Dan pada saat itulah saya menangis. Saya hanya diliputi kesedihan karena berada di ruangan itu. Saya pergi ke sana untuk menawarkan dukungan saya, untuk memeluk mereka, dan mereka akhirnya menghibur saya,” kata dia menceritakan keharuannya.

Di hari berikutnya, Toogood bersiap untuk konser di Stadion Christchurch. “Kami akan memainkan lagu Pacifier, yang merupakan lagu harapan dan kekuatan. Dan kemudian kami akan menutupnya dengan Home Again, sebuah lagu tentang rumah.”
“Saya hanya ingin memastikan bahwa ini bukan tentang saya berada di atas panggung. Ini tentang semua orang di stadion itu yang menyadari bahwa apa yang terjadi di Masjid Al Noor bukan dunia yang ingin kita tinggali. Orang-orang yang mencoba memisahkan kita, itu semua hanya lelucon, itu tidak nyata,” tuturnya.
“Saya tahu dari pengalaman langsung bahwa salah satu manusia terbaik yang pernah saya temui, kebetulan seorang Muslim. Ini membuktikan teori Anda tentang Muslim yang marah dan picik sepenuhnya salah. Saya tahu pasti. Saya sudah menjalaninya,” imbuhnya.[]sumber:republika.co.id
Sumber: https://amp.rnz.co.nz/article/7d12e6c6-93ed-4447-89f8-a65e0c33496d




