(Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (22:37).

 

Mina, sebuah lembah di timur Mekkah, adalah jantung spiritual ibadah haji. Lebih dari sekadar tempat fisik, Mina adalah medan batin tempat jutaan jamaah haji bertemu, merenung, dan menyempurnakan rukun Islam yang agung. Kedudukannya yang sentral dalam ritual haji menjadikannya simbol pengorbanan, persatuan, dan harapan.

 

Makna Kata:

Secara etimologis, nama Mina memiliki resonansi makna yang mendalam. Ia diartikan sebagai “tumpahan darah” merujuk pada ritual penyembelihan hewan kurban, sebuah manifestasi ketaatan mutlak kepada Allah, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS.

 

Di Mina, para peziarah (calon haji) juga menunaikan lempar jumrah, sebuah simbolisasi perlawanan terhadap godaan setan dan pemurnian jiwa.

 

Makna lain dari Mina, “tempat berkumpul”, mencerminkan realitasnya sebagai “kota tenda” yang menampung jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia.

 

Di sinilah, tanpa memandang ras, status, atau kekayaan, mereka bersatu dalam satu tujuan: menggapai ridha Ilahi. Lebih jauh lagi, Mina juga berarti “harapan” atau “cita-cita”, mengingatkan kisah Nabi Adam AS yang merindukan surga di tempat ini. Harapan ini pulalah yang membimbing setiap langkah jamaah haji, sebuah kerinduan akan ampunan dan surga-Nya.

 

Bermalam di Mina:

Mabit atau bermalam di Mina adalah bagian integral dari rangkaian wajib haji. Selama hari-hari Tasyriq, jamaah tinggal di Mina, berzikir, merenung, dan menguatkan ikatan spiritual mereka. Ini adalah masa untuk melepaskan diri dari hiruk pikuk dunia, fokus pada introspeksi, dan memperbarui komitmen kepada Allah.

 

Al-Qur’an menggarisbawahi pentingnya ritual haji dan qurban yang menyertainya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:

 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (22:37)

 

Ayat ini menegaskan bahwa esensi dari kurban di Mina bukanlah pada daging atau darah hewan semata, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan hati yang mendorong pengorbanan itu.

 

Mina adalah medan uji ketakwaan, di mana setiap jamaah diajak untuk menumpahkan “darah” ego dan hawa nafsu, serta menghidupkan “harapan” akan ampunan dan rahmat-Nya.[]

 

*Taufik Sentana,

persiapan Buku Hidangan Maha Rahman, peminat studi tadabbur Alquran.