TRAAP…trappp…traaappp…

Bagah ka meusom,” teriak seorang bocah sembari menenteng senapan laras panjang. Dia adalah Sahrul. Usianya baru 11 tahun. Saat itu, Sahrul bersama teman-temannya sedang terlibat “baku tembak” di Kota Lhokseumawe, tepatnya di sebuah kios di Jalan Merdeka Barat. 

Mereka terlihat siaga. Matanya “jalang” mengawasi setiap mobil pick up dan dump truck yang lewat. Jika kendaraan itu mengangkut anak-anak dengan memanggul senjata, maka perang-peranganpun terjadi. 

Sahrul dan beberapa temannya terlihat cekatan. Mereka bersembunyi di belakang kios seraya mengisi amunisi. Peluru yang dipergunakan terbuat dari plastik padat berukuran kecil. Bentuknya bulat. Sahrul cs yang mendapat serangan balasan dari sekumpulan bocah kecil penumpang mobil bak terbuka.

Namun Sahrul mengaku tidak akan menembak anak-anak yang tidak memanggul senjata. Menurutnya hal tersebut tidak sportif.

“Sayanglah bang, masak ta timbak ureung yang hana timbak tanyoe. Diklik euntek aneuk nyan,” ujar Sahrul.

Aksi perang-perangan ini kerap dilakoni Sarul dan kawan-kawan. Hal serupa juga dilakukan oleh sejumlah anak Aceh setiap lebaran tiba. Mereka juga rela merogoh kocek menyewa mobil pick up sebagai moda transportasi untuk berperang di jalanan.

Terkadang mereka menghabiskan seluruh uang pemberian jatah lebaran dari sanak saudara demi membeli senjata mainan. Namun berapapun harga senjata mainan itu, tak jadi soal. Kendati dimarahi orangtuanya, tetapi Sahrul nekat membeli mainan senjata. Meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi. 

“Kalau pulang ke rumah, taruh senjata mainannya di bawah kursi tamu,” ujarnya.

Permainan yang dilakukan Sahrul ini sebenarnya beresiko tinggi jika tidak dilengkapi alat pengaman. Hantaman peluru plastik yang dilesakkan menggunakan pegas ini akan sakit jika mengenai badan. Lagipula, peluru berukuran kecil itu juga bisa menciderai mata.

Di sisi lain, anak-anak seperti Sahrul kerap terlibat peperangan di jalan-jalan protokol atau kawasan padat penduduk. Terkadang peluru yang berterbangan turut mengganggu pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor.

“Ya, bahaya sekali itu. Apalagi jika peluru yang mereka tembakkan terbang ke arah wajah pengguna jalan seperti saya. Selain itu, ada juga anak-anak yang berlari menghindar tembakan kawannya itu malah ke badan jalan,” ujar Ridwan, salah satu warga Langsa yang juga mengaku sering mendapati anak-anak bermain senjata mainan sepanjang perjalanannya ke Banda Aceh.[](bna)

Laporan: Ramadhan