Mulanya Ayah Panton mendaftar sebagai calon bupati pada pilkada lalu. Langkahnya terhenti di tengah jalan, sehingga gagal masuk ring pertarungan merebut takhta. Dengan semangat baja, ia kembali mendaftar sebagai calon bupati pada kenduri demokrasi 2017. Saat mendaftar di musim pilkada lampau maupun kali ini, Ayah Panton tampil beda.
Syamsuddin Jalil alias Ayah Panton memegang leumbeng (tombak) dengan tangan kiri. Samsul Bahri mencengkram leumbeng dengan tangan kanan. Keduanya diapit lebih 10 warga, sebagian memegang leumbeng, sisanya menghunus pedang. Ada pula yang membawa dua anjing yang lehernya diikat tali. Mereka berbaris di muka kantor Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Utara, Jalan Nyak Adam Kamil, Lhokseumawe.
Tidak, Ayah Panton sama sekali tak bermaksud menyerbu kantor KIP. Ayah Panton dan Samsul Bahri yang datang bersama pasukan pemburu babi hutan, hari itu, 7 Oktober 2011, ingin mendaftar sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati. Ayah Panton adalah seorang seniman. Sedangkan Samsul Bahri, pegawai Dinas Pendidikan Aceh Utara. Pasangan ini mendaftar melalui jalur independen (perseorangan).
Sekelompok warga (membawa tombak, pedang dan anjing) yang ikut mengantar kami ke kantor KIP saat itu merupakan komunitas pembasmi hama babi hutan. Mereka berasal dari Seunuddon dan Baktya (Aceh Utara), ujar Ayah Panton kepada portalsatu.com lewat telpon genggam, Jumat, 23 September 2016, malam.
Pasukan let bui (pemburu hama babi hutan) itu mendukung Ayah Panton-Samsul Bahri mencalonkan diri sebagai cabup-wabup, sehingga mereka ikut mengantar pasangan ini ke kantor KIP saat pendaftaran pasangan calon. Mereka kelompok termarjinalkan. Suka rela dan bekerja secara ikhlas membasmi hama babi, tapi mereka tidak dipedulikan oleh pemerintah daerah, kata Ayah Panton.
Ayah Panton melanjutkan, Jinoe pola balas jasa hana lee. Yang na balas dendam.
Selain Ayah Panton-Samsul Bahri, lebih 10 pasangan calon lainnya juga mendaftar di KIP Aceh Utara pada penghujung 2011. Namun, Ayah Panton-Samsul Bahri termasuk pasangan calon yang tidak mampu memenuhi syarat dukungan sesuai ketentuan berlaku. Pasangan ini gagal bertarung pada pilkada yang digelar tahun 2012.
***
Gagal merebut kursi orang nomor wahid di pemerintahan Aceh Utara tidak mengendorkan semangat Ayah Panton untuk naik panggung politik. Ia kemudian menjadi calon anggota legislatif DPR Aceh dari PDA daerah pemilihan Aceh Utara-Lhokseumawe pada pemilu legislatif 2014. Akan tetapi, Ayah Panton gagal pula meraih kursi parlemen Aceh.
Pantang menyerah, Ayah Panton kini kembali tampil di arena kenduri demokrasi. Ia telah mendaftar sebagai cabup dari jalur independen. Kali ini, Ayah Panton berpasangan dengan Tgk. Ibnu Hajar sebagai calon wabup.
Ayah Panton lahir dan besar di Panton (Pantonlabu), Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Itu sebabnya, ia kemudian akrab disapa Ayah Panton. Ibunya asal Blang Mee, Kecamatan Samudera, sedangkan ayahnya dari Matang Jeulikat, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara.
Matang Jeulikat itu kampungnya (almarhum) Abu Panton, (almarhum) Abu Karimuddin, dan ulama lainnya. Kampung yang melahirkan ulama-ulama besar, kata Ayah Panton yang istrinya berasal dari Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara.
Calon wabup/pendamping Ayah Panton, Tgk. Ibnu Hajar, merupakan putra Abu Batee Lhee (Kilometer III), Kecamatan Lhoksukon, salah seorang ulama di Aceh Utara. Tgk. Ibnu Hajar ialah mantan imum mukim. Ia menjadi imum mukim selama 27 tahun.
Kepastian Ayah Panton-Tgk. Ibnu Hajar maju pada pilkada 2017 diawali dengan deklarasi di makam Sultan Malikussaleh, Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, 9 Agustus 2016. Pasangan ini mengusung slogan, Rakyat makmu, nanggroe meuceuhu.
(Baca: Ayah Panton Deklarasikan Diri Maju Sebagai Calon Bupati Aceh Utara)
Ayah Panton-Tgk. Ibnu Hajar kemudian resmi mendaftar di kantor KIP Aceh Utara, 22 September 2016. Ayah Panton kembali membuat kejutan. Beda jauh dengan pasangan calon lainnya, Ayah Panton-Tgk. Ibnu Hajar bersama seorang pendukungnya datang menunggang sepeda ontel (onthel). Sekonyong-konyong, aksi pasangan ini menyedot perhatian para pengguna kendaraan di jalur itu. Beberapa pengendara sepeda motor tampak menepi untuk memastikan fakta yang dilihatnya.
Di depan kantor KIP, Ayah Panton-Tgk. Ibnu Hajar disambut pendukungnya dengan alunan musik tradisional seurune kalee. Musik itu menjadi hiburan gratis untuk warga yang tengah melintasi jalan depan kantor KIP, juga bagi aparat keamanan bertugas mengamankan lokasi tersebut.
(Lihat: Ayah Panton Naik Sepeda Ontel Mendaftar ke KIP Aceh Utara)
Mengapa Ayah Panton menunggang sepeda ke kantor KIP? Sepeda itu kan kendaraan rakyat sejak masa silam, tidak membawa polusi. Artinya, rakyat telah menunjukkan bagaimana agar kita tidak merusak lingkungan, kata Ayah Panton. Jinoe, tanyoe-tanyoe nyoe yang hana tapike ata nyan.
Filosofi tangen (sepeda), kata Ayah Panton, juga untuk boh meuhob (melepas amarah). Nye kareuloh rante tangen, sinthob. Uroe nyoe, teumpat boh meuhob hana lee. Jinoe peu keuneuk sinthob hana lee tangen, ujar Ayah Panton.
***
Gagal bertarung pada pilkada lalu, mengapa Ayah Panton kembali mencalonkan diri? Saya maju lagi untuk melakukan perubahan. Kita lihat Aceh Utara sekarang ibarat ureung kawe eungkot, bek dilee dikap, meu didrot-drot tan. Gejala perubahan kan tidak tampak, Aceh Utara masih tertinggal dibandingkan daerah-daerah lain, katanya.
Jika kali ini berhasil masuk arena pertarungan dan nantinya terpilih, prioritas utama Ayah Panton-Tgk. Ibnu Hajar mewujudkan kebutuhan dasar masyarakat Aceh Utara. Pasangan ini ingin masyarakat miskin mendapat rumah layak huni atau rumah murah. Begitu juga dengan pakaian, kita ingin ke depan tidak ada lagi warga Aceh Utara yang berpakaian compang camping, mengalami busung lapar atau kurang gizi, ujar Ayah Panton.
Artinya, kata Ayah Panton, semua program pemerintah daerah harus jelas kaitannya dengan kesejahteraan rakyat, sehingga tidak asal-asalan. Kalau kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi, baru bicara membangun industri raksasa. Jangan seperti pengalaman yang lalu, bangun industri raksasa di Aceh Utara, tapi rakyat lapar di balik tembok perusahaan itu, katanya.
Kenapa tidak kita bangun industri-industri kecil dulu, seperti pabrik saos, sehingga boh tomat masyarakat hana brok gara-gara hana meuho peubloe. Meunan cit boh putek, nyena pabrik pengolahan, hana payah preh dipajoh lee musang, ujar Ayah Panton.
Ayah Panton tidak sepakat dengan wacana yang kini dimunculkan pihak tertentu ingin membangun industri batu bara di wilayah barat Aceh Utara. Belum cocok dibangun pabrik batu bara. Yang cocok di wilayah itu pabrik batu bata, katanya. Jangan membuat program yang membuat rakyat menjadi penonton, sehingga mereka selalu miskin dan lapar.
Lantas, apa strategi Ayah Panton agar kali ini tidak gagal lagi seperti pilkada lalu lantaran tak mampu memenuhi syarat dukungan? Dukungan KTP sampai hari ini sudah kita siapkan melebihi dari jumlah kekurangan. Hasil verifikasi faktual, kita kekurangan sekitar delapan ribu, sehingga harus menyerahkan kembali KTP dua kali lipat yaitu 16 ribu lembar. Sampai hari ini sudah terkumpul 20 ribu lembar dan akan kita serahkan ke KIP pada saatnya nanti, ujar Ayah Panton.
Ayah Panton merasa optimis kali ini langkahnya tidak akan terhenti di tengah jalan. Jika pada pilkada 2012 dan pemilu legislatif 2014 mesin politik dirinya lemah, kali ini ia mengaku lebih banyak mendapat dukungan rakyat.
Saya buka posko di Blang Cut, Keude Karieng, Kecamatan Meurah Mulia. Banyak warga dari Kecamatan Lapang, Samudera, (Syamtalira) Bayu dan kecamatan lainnya yang datang memberikan KTP, kata Ketua Lembaga Keurukon Aneuk Nanggroe Papah Adat Keuneubah Aceh Darussalam (Kanapakad) Aceh ini.
Untuk maju sebagai cabup butuh dana besar yang kabarnya mencapai miliaran rupiah. Bagaimana dengan Ayah Panton? Uang itu bukan segalanya, tapi uang kita cukuplah. Dalam arti tidak menghambur-hamburkan uang, tapi gunakan secara efektif dan efisien, ujarnya.
Jika saat mendaftar kemarin saya mengerahkan massa 10 ribu orang, dan per orang harus saya bayar Rp50 ribu saja, sudah berapa, kan setengah miliar habis. Belum lagi membayar biaya sewa kendaraan orang lain, uang minyak dan lainnya. Saya tidak memilih cara-cara seperti itu karena tidak efektif. Kalau kita keluarkan uang bermiliar-miliar, apakah tidak akan korupsi nanti jika terpilih? Ayah Panton balik bertanya.
Jadi, kata Ayah Panton, meskipun pihaknya minim duit, tapi hasil yang akan dicapai besar jika dengan pola efektif dan efisien. Saya low budget, tapi high perfect.[] (idg)




