Perkembangan sebuah bahasa diwarnai perkembangan kosakatanya. Kata-kata baru dalam bahasa itu terbentuk melalui proses-proses tertentu. Proses-proses itu telah berlaku dalam beberapa bahasa dan selama beberapa waktu dan banyak menghasilkan kata seperti yang digunakan dewasa ini.
Lantas, bagaimana kata-kata itu terbentuk? Berikut penjelasannya.
Penciptaan Baru
Salah satu proses pembentukan kata umum dalam bahasa Indonesia adalah penciptaan baru (coinage). Ada banyak kata dalam bahasa Indonesia yang dihasilkan melalui penciptaan baru, seperti pramuniaga, narasumber, rujukan, dan pramuwisma. Kata-kata tersebut digunakan sebagai padanan pengertian-pengertian yang belum ada.
Penciptaan kata-kata baru dalam bahasa Indonesia dilakukan oleh lembaga (Pusat Bahasa di Jakarta) ataupun perseorangan.
Pungutan
Sumber kata-kata baru bahasa Indonesia yang lain adalah proses yang disebut pungutan (borrowing), yaitu mengambil alih kata-kata dari bahasa lain. Kata pungutan dapat bersifat gramatikal dan bersifat leksikal.
Pungutan gramatikal mencakup unsur bunyi, morfem, dan kelompok kata. Contoh pungutan unsur bunyi ialah pengucapan kata taxi dan executive. Dalam bahasa Indonesia kata-kata itu dieja taksi dan eksekutif. Contoh pungutan kelompok kata dapat dijumpai dalam pemakaian di mana dan pada mana yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris in which dan on which.
Pungutan leksikal ialah pungutan yang berupa kata-kata, baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing, seperti ambruk, wadah, wajar (bahasa Jawa), kagok, nyeri (bahasa Sunda), genit (dialek Jakarta), angkasa, angka, cemara (bahasa Sanskerta).
Penggabungan
Penggabungan (compunding) merupakan gejala biasa dalam bahasa-bahasa seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jerman, tetapi jarang terjadi dalam bahasa tertentu seperti bahasa Prancis dan bahasa Spanyol. Contoh-contoh penggabungan dalam bahasa Indonesia ialah jumpa pers, lomba tari, kerja paksa, ambil alih.
Pengakroniman
Sebagian kata baru dibentuk dari huruf-huruf awal kata-kata yang lain, gabungan suku kata, atau paduan huruf dan suku kata dari gugus kata yang ditulis dan dilafalkan seperti kata yang wajar. Gejala ini disebut dengan akronim. Akronim dapat menjadi istilah sehari-hari dan penggunaannya cenderung meluas. Contoh akronim seperti purel (public relation), bandara (bandar udara), sikon (situasi kondisi), istora (istana olahraga).
Derivasi, Infleksi, dan Proses Lain
Derivasi berarti pembentukan kata dengan menambahkan afiks pada kata asal, misalnya pemuda, wartawan, dan melihat yang diturunkan dari bentuk dasar muda, warta, dan lihat. Infleksi merupakan perubahan bentuk kata yang menunjukkan pelbagai hubungan gramatikal yang dihasilkan dengan proses morfemis, misalnya pemudi, wartawati, melihat-lihat dari bentuk dasar pemuda, wartawan, dan melihat.
Di samping proses di atas, juga terdapat proses pembentukan kata lain, di antara proses yang disebut peleburan (blending). Peleburan merupakan penggabungan dua bentuk kata untuk menghasilkan satu istilah baru dengan pengambilan awal suatu kata dan digabungkan dengan akhir kata yang lain misalnya, motel dan gasahol merupakan paduan dari motor dan hotel, dan gasolin dan alcohol.
Proses pembentukan kata yang lain adalah pemangkasan (clipping). Proses itu terjadi ketika satu kata memiliki lebih dari satu suku kata dijadikan bentuk yang lebih pendek, misalnya ad (advertismement) yang berarti iklan dan lab (laboratorium).[]

