Pernahkah terlintas dalam pikiran Anda, bagaimana bahasa Indonesia yang dipakai pada zaman dulu, katakanlah era 50-an, 60-an, 70-an, dan seterusnya? Samakah bahasa Indonesia ketika itu dengan yang digunakan sekarang?
Pernahkah pula terpikir oleh Anda samakah bahasa Inggris yang dipakai zaman sekarang dengan bahasa Inggris abad keenam atau ketujuh Masehi?
Jawabannya tentu saja tidak. Bahasa Indonesia tahun 50-an, 60-an, 70-an, dan seterusnya tidaklah sama dengan bahasa Indonesia kini. Begitu pula dengan bahasa Inggris atau bahasa mana pun di dunia ini. Dengan kata lain, bahasa dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan, baik dari segi bunyi, bentuk, maupun makna.
Tahukah Anda arti kata bahasa Inggris ini, Know ye this man? Barangkali perlu waktu ekstra untuk menjawabnya, mungkin dengan melihat beberapa referensi seperti kamus. Namun, ketahuilah bahwa sebagian kata pada kalimat tanya itu tidak akan ditemukan dalam kamus bahasa Inggris sekarang karena struktur kalimat serta sebagian kata yang digunakan dalam kalimat itu dipakai oleh William Shakespeare, penulis Inggris yang seringkali disebut sebagai salah satu sastrawan terbesar Inggris, pada abad ketujuh Masehi.
Lantas, untuk kalimat yang sama seperti yang dipakai William Shakespeare, bagaimana bentuknya dalam bahasa Inggris sekarang? Do you know this man? Begitulah struktur dan kosakata bahasa Inggris sekarang.
Bahasa Indonesia juga tak jauh berbeda. Dalam hal tata tulisan, misalnya. Bahasa Indonesia pada 1901 berbeda dengan 1945, berbeda pula dengan 1965, demikian pula dengan bahasa Indonesia sekarang.
Pada 1901, huruf y diwakili oleh huruf j, misalnya kata rakyat, pada tahun itu ditulis rakjat. Demikian pula dengan kata ulang. Pada 1945 (Ejaan Republik), kata ulang ditulis menggunakan angka dua. Jalan-jalan, misalnya, dulu ditulis jalan2.
Perubahan bahasa secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu perubahan internal dan perubahan eksternal.
Perubahan internal terjadi karena pengaruh bahasa tertentu itu sendiri. Perubahan jenis ini dapat berupa perubahan bentuk, perubahan bunyi, dan perubahan makna, baik leksikal maupun gramatikal. Perubahan bentuk, misalnya saya yang sebelum berubah bentuk adalah sahaya. Demikian pula baru yang bentuk awalnya baharu, bagi dengan bentuk awalnya bahagi, sate yang memiliki bentuk awal satai.
Perubahan yang disebabkan oleh penyesuaian sistem bunyi, misalnya qolbu menjadi kalbu, fikir menjadi pikir, faham menjadi paham. Lain lagi dari segi makna. Perubahan jenis ini, misalnya pada kata sunting. Semula kata ini mempunyai arti hiasan (bunga) yang diselipkan di rambut atau belakang telinga, tetapi sekarang artinya menjadi berkembang dan dapat bermakna edit sehingga menyunting mempunyai arti mengedit.
Perubahan bahasa juga ada dalam bentuk perubahan eksternal, yaitu terjadi karena pengaruh bahasa asing atau bahasa selain bahasa itu sendiri yang ditandai oleh adanya elemen-elemen pungutan dari bahasa lain.
Bahasa Indonesia, misalnya banyak mengambil pungutan dari bahasa asing, seperti karier, presiden, parkir (dari bahasa Inggris), dasasila, Pancasila, ekaprasetya pancakarsa (dari bahasa Sanskerta),persneling, onderdil (dari bahasa Belanda), meja, jendela, sepatu (bahasa Spanyol, dan lain-lain. Sebagai contoh lain, bahasa Inggris juga memungut kosakata dari bahasa-bahasa lain. Kata country, chancellor, solider dipungut dari bahasa Prancis, toboggan, tomahawk dipungut dari bahasa Indian, sedangkan zero, cipher, alcohol dipungut dari bahasa Arab.
Ketika sebuah kata dipungut dari bahasa lain, kata itu disesuaikan dengan sistem bunyi bahasa yang meminjam. Dalam bahasa Indonesia kata declaration menjadi deklarasi dan kata effective menjadi efektif. Dalam bahasa Jepang, gejala yang sama juga terjadi. Kata-kata pungutan dari bahasa Inggris, misalnya baseball, golf, milk berubah menjadi basubooru, gorofu, miruki.
Perubahan bahasa tidak terjadi dalam waktu singkat. Perubahan itu terjadi secara bertahap, dan pada saat terjadinya, perubahan itu mungkin sulit diketahui. Namun, dalam waktu satu abad perubahan itu amat mencolok.
Yang pasti bahasa apa pun dari waktu ke waktu terus berubah entah karena faktor perkembangan teknologi, budaya, atau kebutuhan akan kosakata baru. Perubahan tak dapat dihindari. Semua bahasa pasti mengalami.[]

