LHOKSEUMAWE- Batu pemecah ombak di pesisir pantai Gampong Ujong Blang, Hagu Barat Laut hingga Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe mulai tertimbun pasir laut bahkan ada sebagian sudah hilang tertutup tanah.
Benteng kokoh yang dibuat dengan batu besar pengunungan Aceh untuk menahan lajunya air pasang laut itu telah abrasi. Ratusan miliar anggaran yang dihabiskan sia-sia, sebab hanya bertahan dalam kurun waktu yang tidak lama.
Informasi yang diterima portalsatu.com, pembangunan pemecah ombak sebagai benteng agar tidak terjadi abrasi ternyata hanya bermanfaat sekitar 10 tahun saja, namun setelah itu terkikis ombak dan akhirnya tertutup pasir.
Menurut Masyarakat sekitar, batu pemecah ombak tersebut dikerjakan tidak secara maksimal. Pembuatan pemecah ombak ini telah dilakukan sebelum tsunami melanda Aceh.
Abdul Gani, warga Lhokseumawe mengatakan pembuatan penahan abrasi dari batu gunung tidak dikerjakan secara maksimal sehingga hanya bermanfaat dalam kurun waktu tertentu dan pekerjaan tersebut hanya sia-sia dan menghaburkan uang publik.
Pemerintah harus merencanakan suatu pekerjaan yang tepat sasaran sehingga apa yang dibangun hasilnya dapat bermanfaat bagi masyarakat, kata Gani kepada portalsatu.com, Selasa 2 Agustus 2016.
Hal yang sama dikatakan Basyariah, yang juga warga Lhokseumawe. Menurutnya batu pemecah ombak yang dibangun di kawasan Desa Kampung Jawa awalnya melampaui batas hingga menutupi pesisir laut.
Waktu itu, dengan ketinggian demikian membuat ratusan nelayan boat pancing, nelayan pukat darat, sulit melakukan aktivitas untuk mencari ikan, dalam mengais rezeki untuk keluarganya.
Menurutnya, saat itu para nelayan dikawasan tersebut, tidak bisa lagi menambatkan perahu mereka di pinggir pantai, karena sudah dibentengi bebatuan pemecah ombak namun sekarang semuanya sudah terkikis.[]


