Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaNewsBeberapa Pemeo Sindiran...

Beberapa Pemeo Sindiran dalam Bahasa Aceh

Pemeo adalah ejekan (olok-olok, sindiran) yang menjadi bahan pembicaraan orang. Hampir setiap bahasa punya pemeo.

Sebut saja misalnya, dalam bahasa Aceh. Éh malam, jak lom u Banda  atau wén lom, na aneuk mo dapat disebut sebagai contoh pemeo.

Éh malam dapat diterjemahkan tidur malam. Orang Aceh kerap menggunakan pemeo ini. Meski demikian, penggunaannya bukan untuk mengajak orang tidur ketika malam tiba. Dengan kata lain, pemakaian pemeo tersebut lebih berdasarkan situasi dan kondisi.

Untuk menjelaskan situasi yang saya maksud, baiknya cermati contoh berikut.

Seorang bawahan diminta oleh atasannya untuk membeli pulpen, misalnya. Sekembalinya dari membeli pulpen, bukan pulpen yang dibelinya, melainkan pensil. Nah, kepada bawahannya, atasan mengatakan, “éh malam”.

Itu artinya, éh malam ditujukan kepada orang-orang yang sering teledor, lalai, atau salah dalam melakukan/bertindak.

Intonasinya pun khas, yaitu meninggi ketika diucapkan kata éh, tetapi turun ketika diucapkan malam.

Panjangnya pelafalan juga lumayan. Éh sering dipanjangkan hingga beberapa harkat kalau dalam istilah tajwidnya: ééééééééh, demikian pula dengan malam yang diucapkan malaaaaaam. Ada pula yang dipanjangkan hanya pada suku kata malam sehingga menjadi éh malaaaaaaaam.

Jak lom u Banda. Pemeo ini cukup populer di Banda Aceh dan diucapkan, baik secara sadar maupun tidak sadar. Para pengguna umumnya adalah anak-anak muda yang datang dari desa dan tinggal di Banda Aceh, baik untuk mencari rezeki maupun kuliah.

Sasaran pemeo ini biasanya adalah para anak muda atau mahasiswa yang terlihat sedang ‘berkeluh kesah’ atau ‘bersusah payah’. Kepada mahasiswa yang sering mengeluh karena tingginya biaya hidup di Banda Aceh, orang lain yang mendengar keluhan itu akan mengatakan, “Jak lom u Banda”.

Terkadang, jak lom u Banda pengucapannya dengan abéh pèng mak. Letaknya, sebelum jak lom u Banda atau bisa jadi sesudahnya.

Demikian pula, jika ada mahasiswa yang berdesak-desakan naik robur ke kampus, terucaplah ungkapan ini, “Jak lom u Banda”. Begitu pula jika terlihat ada pemuda desa sedang bekerja bangunan, entah mengaduk semen atau melakukan pekerjaan bangunan lainnya, sambil meratapi nasib, rekannya yang lain akan mengatakan, “Jak lom u Banda. Han jeut duk, döng pih jeut”.

Terkadang pemeo itu juga dilanjutkan dengan ‘…han jeut d?ng, meugantung pih jeut.”

Jak lom u Banda diucapkan dengan intonasi awal rendah, lalu dilanjutkan dengan intonasi yang terus meninggi. Penekanannya terjadi pada kata lom.

Meski penggunaan ungkapan ini lebih bertujuan untuk mengejek, pihak yang menjadi sasaran ungkapan itu tentu saja tak marah. Ia justru membalas ejekan temannya itu dengan ungkapan yang sama atau diam saja sambil semringah.

Ada juga pemeo lain yang juga sering dipakai oleh masyarakat, yaitu wén lom, na aneuk mo. Pasangan muda-mudi yang baru menikah atau yang sudah punya anak, seringkali menjadi sasaran ungkapan ini.

Berbeda dengan Jak lom u Banda, ungkapan Wén lom, na aneuk mo penggunaannya lebih bertujuan mengejek pasangan muda-mudi yang sudah menikah, tetapi sering berkeluh kesah tentang kehidupan keluarganya dan masalah keuangan yang masih ditanggung oleh orang tuanya.

Kadangkala ungkapan ini diawali oleh cemoohan seperti, “Jipiké meukawén nyan tôh aneuk mant?ng. H’ana jiteupeu leuweu cawat aneuk payah bloe cit. Nyan jinoe rasa. Na aneuk lakèe pèng bak mak. Wén lom, na aneuk mo. []

Baca juga: