Laporan Mardhatillah, Anggota Komunitas Jurnalis Warga Banda Aceh dan Alumnus D4 Gizi Poltekkes Kemenkes Aceh.
Seberapa mudahkah mendapatkan vaksin di bulan puasa? Pertanyaan tersebut saya lontarkan kepada salah satu warga Gampong Lambaro Skep, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, lantaran pemerintah mengeluarkan aturan mudik yang mewajibkan masyarakat sudah mendapatkan vaksin booster.
Rinaldi namanya. Usianya 47 tahun. Dia bekerja sebagai tukang las pengolah bahan daur ulang sampah di kamiKITA Community Center. Komunitas yang menaungi para pemuda lintas etnis dan agama ini mengusung konsep pertanian urban (urban farming), tren berkebun di lahan terbatas yang lazim dilakoni masyarakat perkotaan saat ini. Komunitas ini juga bergerak di bidang literasi keuangan, olahraga basket, dan recycle/upcycle.
Rinaldi yang saya temui pada Sabtu, 16 April 2022, mengaku sudah mendapatkan dua kali vaksinasi pada tahun lalu. Akan tetapi, Rinaldi belum mendapatkan vaksin booster, karena ia merasa gerai vaksinasi hanya dibuka pada jam kerja saja. Hal ini membuatnya kesulitan karena jadwal kerjanya cukup padat dari Senin hingga Sabtu, mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Biasanya setiap Lebaran, ia dan keluarga melakukan perjalanan ke Meulaboh untuk mengunjungi sanak saudaranya.
Di sisi lain, Rinaldi merasa kurang mendapatkan informasi mengenai tempat pelaksanaan vaksin booster, terutama saat bulan Ramadan ini. Padahal, ia ingin segera divaksinasi booster. Menurutnya, vaksin sudah menjadi kebutuhan saat ini. Ia sudah melihat sendiri manfaat yang didapatkan setelah vaksinasi. Di antaranya, adanya perbedaan gejala saat istrinya tiga kali dinyatakan positif Covid-19. Saat pertama kali terpapar Covid-19 dan belum mendapatkan vaksinasi, istrinya memiliki gejala seperti sesak, sedangkan pada paparan yang ketiga dan sudah divaksinasi gejalanya hanya flu biasa.
Rinaldi pun sepakat dan menyadari bahwa vaksinasi bukan untuk mencegah virus, tapi sebagai bentuk pertahanan imunitas diri agar saat terpapar, gejala yang dialami tergolong ringan.
Untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses vaksinasi, ia pun menyarankan agar sebaiknya dilakukan pendataan per desa siapa saja yang belum mendapatkan vaksinasi. Untuk jadwal pelaksanaannya, dapat dilakukan per desa dan bekerja sama dengan puskesmas setempat.
Sebagai mantan kepala dusun, Rinaldi menilai penting adanya kerja sama antara tenaga kesehatan dengan aparatur desa dalam merangkul masyarakat agar bersedia dan memudahkan dalam mendapatkan akses vaksinasi.
Untuk menjawab keresahan Rinaldi, saya pun mencoba mencari informasi. Banda Aceh Convention Hall (BACH) yang awalnya menjadi pusat vaksinasi, saat ini sudah pindah ke Museum Rumoh Aceh di Jalan Sultan Mahmudsyah No. 10, Gampong Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Pelaksanaan vaksinasi dilakukan di bangunan berwarna putih yang masih satu pekarangan dengan Museum Rumoh Aceh ini. Terdapat beberapa rumah sakit yang membuka gerai layanan vaksinasi di sini, salah satunya Rumah Sakit Bhayangkara Banda Aceh.
Siti Hazizah sebagai tenaga vaksinator yang saya temui pada Selasa, 18 April, menjelaskan terkait jadwal kegiatan vaksinasi. Selama bulan Ramadan, vaksinasi dilaksanakan pada pukul 09.00-13.00 WIB dari Senin-Jumat. Khusus Sabtu dan Minggu, hanya ada gerai RS Bhayangkara. Jika ada warga yang ingin mendapatkan vaksinasi di malam hari, ia menyarankan agar mengunjungi Masjid Babuttaqwa di Jeulingke yang berada di samping Mapolda Aceh. Vaksinasi dimulai setelah salat Tarawih.
Adapun alur pelaksanaan vaksinasinya. Pertama, saat melakukan registrasi, peserta vaksinasi hanya perlu menunjukkan kartu vaksinasi sebagai bukti telah mendapatkan dosis 1 dan 2. Peserta juga perlu melakukan konfirmasi NIK (nomor induk kependudukan) sudah benar dan nomor ponselnya masih aktif. Data tersebut diperlukan karena akan terintegrasi dengan aplikasi Peduli Lindungi dan peserta juga dapat mengunduh sertifikat vaksinasi melalui aplikasi tersebut.
Kedua, peserta akan dilakukan pengecekan suhu tubuh, tekanan darah, dan beberapa pertanyaan seputar kondisi tubuh sesuai dengan form yang tersedia. Jika sudah sesuai dengan ketentuan prosedur vaksinasi, maka langkah selanjutnya peserta akan dipanggil sesuai antrean menuju ruang vaksinasi.
Ketiga, sebelum dilakukan penyuntikan, vaksinator akan menanyakan apa jenis vaksin 1 dan 2 yang diterima oleh peserta. Hal tersebut dilakukan agar vaksin booster yang akan diterima sesuai dengan ketentuan dari Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor: HK.02.02/II/252/2022.
Vaksinasi booster dilakukan melalui dua mekanisme, yaitu mekanisme Homolog dan Heterolog. Homolog adalah pemberian vaksin booster dengan menggunakan jenis vaksin yang sama dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya. Sementara itu, mekanisme Heterolog adalah pemberian vaksin booster dengan menggunakan jenis vaksin yang berbeda dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya.
Jenis vaksin yang digunakan antara lain, untuk sasaran dengan dosis primer Sinovac maka diberikan vaksin AstraZeneca, separuh dosis (0,25 ml), atau vaksin Pfizer, separuh dosis (0,15 ml). Untuk sasaran dengan dosis primer AstraZeneca maka diberikan vaksin Moderna separuh dosis (0,25 ml), atau vaksin Pfizer, separuh dosis (0,15 ml).
Pada tahapan terakhir, peserta yang sudah divaksinasi dan beristirahat selama 15 menit maka sudah diperbolehkan pulang. Petugas registrasi akan menyerahkan kartu vaksinasi sebagai bukti telah melakukan vaksin ketiga.
Siti Hazizah menyarankan agar masyarakat yang akan melakukan mudik Lebaran tahun ini, dapat melakukan vaksinasi dari jauh-jauh hari. Menurut informasi dari Kemenkes, antibodi mulai terbentuk pada satu hingga dua minggu pascavaksinasi booster. Di sisi lain, dikhawatirkan jika adanya efek yang timbul setelah vaksin atau dikenal dengan istilah KIPI (Kejadian Ikutan Pascaimunisasi) maka masyarakat dapat beristirahat selama beberapa hari dan mudik pun akan nyaman dan aman.[]







