BANDA ACEH – Pagelaran seni budaya Sound of Nanggroe Vol. 9 edisi khusus dua dekade (20 tahun) damai Aceh bertajuk “17 Puisi Merdeka” di Warkop TB Kopi Taman Seni dan Budaya Aceh, Banda Aceh, sukses dilaksanakan pada Minggu, 17 Agustus 2025.

Ramadhan Moeslem Arrasuly alias Made selaku koordinator kegiatan mengatakan acara yang berlangsung sejak Minggu sore hingga malam menghadirkan 17 penyair dari Aceh dan berbagai daerah lain.

Minggu sore, puisi dibacakan lima orang, mulai pukul 16.30 hingga 18.30 WIB. Yakni, Nikita Maria (HAKKA/SMA Methodist), Starren Wunardi (HAKKA/SMA Methodist), Jessen Wiratan (HAKKA/SMA Methodist), Asyifa Sahara (Universitas Bina Bangsa Getsempena), dan Salsabila (Sekolah Menulis Hamzah Fansuri). Salsabila ulang tahun ke-22 pada 17 Agustus 2025.

Minggu malam, diisi 12 orang, mulai pukul 20.30 WIB hingga selesai. Ke-12 orang tersebut, Nelson Sani (Papua), Abue (Teater HOME), Mustafa (Teater Reje Linge), Hanum (Teater Nol), Win Anshar, Iwan Setiawan, Rahmad Sanjaya, Mahdalena, Wina SW1, Chairyan Ramli, Yuni dan anaknya, Qiyya Wahyudi murid kelas 5 Sekolah Dasar Islam Karakter yang juga anak dari musisi Aceh, Yudi Amirul.

“Spesialnya lagi menjelang akhir acara pada malam itu, salah satu penyair Aceh tingkat nasional yang pernah mengharumkan nama Aceh turut hadir. Yaitu Bapak Zalsufran, S.T., M.Si., yang kini menjadi Kepala Dinas Peternakan Aceh,” ujar Made, dalam rilisnya, Senin (18/8).

Zalsufran mengatakan, “Ada atau tidak ada uang, maupun anggaran dari Pemerintah kota Banda Aceh dan Provinsi Aceh, tetapi kegiatan Sound of Nanggroe yang sudah memasuki edisi ke-9, bisa tetap berjalan dan dilaksanakan dengan baik”.

MC pada acara ini 3 orang, yaitu Syakirah pada sore hari, sementara malam harinya ialah Kana dan Ikke.

Khususnya para pelajar SMK Methodist, Nikita Maria, Starren Wunardi, Jessen Wiratan, mengatakan ini adalah momen pertama mereka dan ingin sekali ada kesempatan berikutnya.

Mereka bangga karena bisa terlibat di event ini. Alasan paling utama adalah karena mereka dari komunitas Tionghoa, tetapi mereka seperti di rumah sendiri, bersama saudara dan keluarga sendiri.

Apalagi Made menegaskan walaupun mereka beda suku dan agama, tetapi lahir dan besar di Aceh. “Turun temurun dari zaman nenek moyang kalian hingga hari ini, dan indetitas kalian itu Aceh”.

Made menegaskan umat Islam diajarkan untuk saling menghargai dan menghormati terhadap sesama umat manusia, antarsuku, bangsa, dan agama. “Apalagi khususnya urusan agama, keyakinan atau kepercayaan itu adalah urusan masing-masing”.

“Kegiatan ini pun sekaligus ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa masyarakat Aceh itu tidak rasis. Dan mereka pun bersama gurunya tersenyum dan senang mendengarnya,” tutur Made.

Reza, salah satu Guru SMA Methodist mengatakan event-event seperti ini harus lebih banyak dan lebih besar lagi, serta disosialisasikan ke sekolah-sekolah di Aceh.

“Untuk mencari atau melahirkan bakat-bakat sastrawan muda Aceh, penulis puisi, saya rasa perlu ada dukungan pihak-pihak lain, seperti pembuatan buku antologi puisi karya siswa-siswi Aceh. Mungkin bisa bekerja sama dengan pihak Dinas Pendidikan Aceh, Balai Bahasa ataupun yang lainnya”.

[Made foto bersama para pelajar dan guru SMK Methodist. Foto: Istimewa]

Menurut Made, pihaknya sudah membangun komunikasi dengan baik bersama keluarga besar Yayasan HAKKA Aceh itu sekitar 15 tahun. Terakhir pada 5 Juli 2025 saat pagelaran seni budaya Sound of Nanggroe Vol. 7 pun, Barongsai ikut terlibat sebagai pengisi acara. “Semoga hubungan ini bisa terjalin hingga akhir masa”.

“Kegiatan ini juga menjadi salah satu momen untuk menyita perhatian dalam rangkaian kegiatan. Dengan suara lantang namun penuh penghayatan, menegaskan bahwa kemerdekaan tidak hanya berarti bebas dari penjajahan asing, tetapi juga kebebasan untuk hidup bermartabat, aman, dan adil,” tegas Made.

Kritik sosial yang disampaikannya melalui puisi seolah menjadi cermin bagi perjalanan bangsa Indonesia, khususnya Aceh, setelah 20 tahun perdamaian.

Made selaku inisiator acara menyebut bahwa kegiatan ini lahir dari semangat kolektif, bukan agenda dari Pemko Banda Aceh maupun Pemerintah Provinsi Aceh.

“Harapannya, perdamaian Aceh harus benar-benar terjaga hingga akhir masa, dan kemerdekaan yang sesungguhnya harus benar-benar dirasakan serta dinikmati rakyat,” ujarnya.

Salah satu pengisi acara Wina SW1, mengatakan event seperti ini perlu digalakkan lagi, tentu saja dengan melibatkan generasi muda. Agar mereka kenal para penyair Aceh dan karya-karyanya. Juga bisa jadi wadah untuk memotivasi mereka bisa berkarya dan mencintai sastra.

Mahdalena, Guru SMK dan Dosen di STIKes Assyifa, mengatakan kegiatan ini menjadi inisiasi gerakan kebudayaan yang berfokus pada sentuhan seni pada Generasi Z. Di mana kesadaran naratif mereka masih miskin teks sastra.

“Gaung literasi yang digadangkan membutuhkan implementasi yang mampu mengelaborasikannya menjadi action di lapangan. Penyatuan generasi muda bersepanggung dengan pelaku seni, sangat bermakna dalam menumbuhkembangkan kecintaan kepada seni sastra, sehingga menajamkan daya kritis generasi bangsa ke masa hadapan”.

“Endingnya ketajaman memahami teks sastra yang menjadi salah satu indikator penilaian kompetensi warga belajar di sekolah menjadi kekuatan untuk mengangkat derajat pendidikan kita khususnya di Aceh. Selanjutnya penerusan estafet pendidikan sastra tidak hanya diperoleh di sekolah, dengan segala keterbatasan ruang dan waktu, tetapi mengalir dalam arus deras proses kesenimanan yang paripurna sejak belia”.

Nelson Sani dari Himpunan Mahasiswa Papua Aceh yang ikut terlibat membaca puisi mengatakan kegiatan ini luar biasa. Sudah seharusnya dapat ditingkatkan lagi dan disosialisasikan di setiap kampus dan sekolah dan hingga desa-desa di Aceh.

Karena Nur Janah Alsharafi berhalangan hadir, akhirnya Made menggantikannya membacakan puisi yang telah disiapkan khusus untuk 17 Agustus 2025 di penutupan acara.

Berikut puisinya:

Merdeka

Oleh Nur Janah Alsharafi

Merdeka itu ketika air susu ibu mengalir di mulut ananda /
Dengan rasa bahagia / Tanpa kata kata nyinyir keluarga / Tanpa khawatir omelan berkedok cinta

Merdeka itu ketika modal kecil bisa dipinjam leluasa / Tanpa bunga menjerat kepala/Tanpa teror pinjol sesakkan dada

Merdeka itu ketika terbuka lapangan kerja / Luasnya peluang wirausaha / Kompetisi sehat terbuka / Tanpa tipu tipu sesama

Merdeka … di manakah berada?
Barangkali sembunyi di dalam cerana.

(@nurjanahalsharafi, 17082025).[]