LHOKSEUMAWE – Tim pembuatan film dokudrama berjudul “Sultan Al-Malik Ash-Shalih; Samudra Pasai di Bawah Curahan Cahaya Langit” mulai bekerja. Tim tersebut akan melakukan reka ulang sebagian peristiwa sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai.

Hal itu disampaikan Irfan M. Nur dari Glamour Pro Banda Aceh, rumah produksi yang menggarap film dokumenter drama (dokudrama) tersebut kepada portalsatu.com di Lhokseumawe, Rabu, 14 September 2016, sore.

Irfan menjelaskan, sebagian peristiwa sejarah yang akan direka ulang ialah tentang kunjungan penjelajah asal Maroko Ibnu Baththuthah ke Kerajaan Islam Samudra Pasai tahun 746 hijriah (1346 masehi).

Ibnu Baththuthah menyebut kota Samudra Pasai dengan nama Sumuthrah. Di kota ini, ia bertemu dengan Sultan Al-Malik Azh-Zhahir serta para pemuka kerajaan lainnya. Ia menulis laporan kunjungannya dalam buku yang diberi judul: Tuhfatul Anzhar atau lebih dikenal dengan Rihlah Ibni Baththuthah.

Kurang lebih setengah abad sebelum kunjungan Ibnu Baththuthah, sebuah kerajaan Islam telah didirikan oleh seorang yang bergelar Sultan Al-Malik Ash-Shalih. Ia wafat di penghujung abad ke-7 hijriah, dalam bulan Ramadhan tahun 696 atau 1297 masehi. Nisan makamnya yang hari ini terdapat di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, memuat epitaf yang memberitahukan tentang kepribadian pendiri Kerajaan Islam terkenal ini.

Sultan Al-Malik Ash-Shalih adalah seorang yang bertakwa lagi suka menasihati, berasal dari keturunan terhormat dan terkenal, lagi seorang yang amat pemurah. Ia juga seorang yang kuat beribadah sekaligus seorang pembebas.

Kerajaan Islam yang dalam salah satu dokumen otentik disebut dengan nama ‘Syummuththrah’ ini kemudian diwariskan dalam tangan anak dan cucu keturunannya sampai permulaan abad ke-9 hijriah atau ke-10 masehi.

Di antara para pemerintah Syummuththrah, atau yang dalam tradisi tutur biasa disebut Samudra Pasai, ialah Sultan Al-Malik Azh-Zhahir Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih, Sultan Ahmad bin Muhammad, Sultan Al-Malik Azh-Zhahir bin Raja Khan, Sultan Zainal ‘Abidin bin Ahmad, Sultanah Nahrasyiyah binti Zainal ‘Abidin bin Ahmad, dan Sultan Zainal ‘Abidin bin Ahmad bin Ahmad yang bergelar Ra’ubabdar, sang penakluk gelombang. Demikian dikutip portalsatu.com dari naskah film dokudrama itu yang ditulis Tgk. Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah dan kebudayaan Islam.

Peran Tgk. Muhar

Irfan mengatakan, dalam film dokumenter drama itu, Ketua DPR Aceh Tgk. Muharuddin akan memerankan sosok Sultan Al-Malik Azh-Zhahir dan berdialog menggunakan bahasa Arab.

Tgk. Muhar—sapaan akrab—Tgk. Muharuddin merupakan alumni Dayah/Pesantren Modern Misbahul Ulum Paloh, Lhokseumawe. Saat ini, ia menjabat Ketua Forum Silaturahmi Alumni Pesantren Modern Misbahul Ulum (For-PMMU). Pemilihan Tgk. Muhar sebagai pemeran sosok Sultan Malik Azh-Zhahir yang dalam film dokudrama itu berdialog dengan bahasa Arab dinilai sangat tepat.

Menurut Irfan, pengambilan gambar untuk film dokudrama tersebut berlokasi di bekas pusat Kerajaan Islam Samudra Pasai, yaitu kawasan Samudera, Aceh Utara saat ini dan sekitarnya.

“Termasuk pengambilan gambar dari laut ke darat di Teluk Samawi di kawasan Kuala Meuraksa (pesisir Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe). Juga lokasi Cot Istana di Kecamatan Samudera (Aceh Utara), gambar dirham, sebaran tembikar, dan lainnya,” kata Irfan dari Glamour-Pro Banda Aceh.[] (idg)